SAMIGALUH – Pembudidayaan bunga krisan di Kulonprogo memiliki prospek sangat baik. Omzet pendapatan krisan bahkan bisa melebihi usaha ternak sapi.Pemkab Kulonprogo telah merintis budidaya bunga krisan di Gerbosari, Samigaluh sejak 2008. Bisnis usaha bunga krisan telah menciptakan perputaran uang yang besar dan cepat.Senin (11/8), Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo memanen krisan di Gerbosari bersama Paguyuban Seruni Menoreh Karang Gerbosari Samigaluh. Menghasilkan Rp 350 juta hanya dalam kurun waktu tiga bulan. “Ini sukses dan sangat menggembirakan. Budidaya bunga krisan ternyata melebihi usaha ternak sapi,” kata Hasto. Dia sekaligus membuka Sosialisasi SOP (Standard Operating Procedure) budidaya krisan di Sekretariat Paguyuban Seruni Menoreh Karang Gerbosari Samigaluh (11/8).
Hasto optimistis, budidaya bunga krisan di Samigaluh akan terus berkembang. Targetnya bisa menyamai Sleman yang memang menjadi habitat krisan yang cocok, lantaran berada di dataran tinggi. “Dengan penerangan yang cukup, dan dipilih tempat yang lebih tinggi, batang krisan tentunya juga bisa tumbuh lebih tinggi dan produksi bunganya bisa lebih maksimal,” ujarnya.Bupati berterima kasih kepada BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) DIJ yang telah membantu mengembangkan budidaya bunga krisan. “Dengan SOP yang baik, nanti bunga krisan juga bisa ditanam di dataran rendah,” harapnya.
Kepala Dipertahut Kulonprogo Bambang Tri Budi Harsono mengatakan tempat pembudidayaannya sudah cukup bagus dan representatif. Hanya kemampuan dan keahlian SDM-nya yang perlu ditingkatkan. “Kuncinya, mau atau tidak mau, selebihnya komunikasi. Petani dipersilakan mengomunikasikan dengan dinas terkait jika ada hambatan. Terkait sarana prasarana seperti embung, akan kami diskusikan dahulu,” katanya.Berdasarkan data Dipertanhut Kulonprogo, hingga 2014 ini media penanaman sudah tersedia 3.200 meter persegi. Target 3.600 meter persegi secara bertahap akan diupayakan sehingga Samigaluh menjadi daerah sentra krisan Kulonprogo. “Budidaya krisan dukup menyenangkan, karena mampu mengubah pekarangan menjadi lebih sehat, indah dan produktif. Kami juga akan membantu mengupayakan fasilitasi kendaraan untuk mengangkut bunga potong berupa kendaraan roda tiga,” janji Bambang.Ketua Paguyuban Tani Guyub Subur Samigaluh, Suharso mengatakan budidaya krisan mulai dikenalkan sejak 2008, dan kini terus meluas. Hingga 2013, paguyuban di Samigaluh masih menggunakan SOP dari Sleman dengan menyesuaikan kondisi wilayah Samigaluh.
Usia tanaman bunga krisan lima tahun, dan bisa panen sebanyak tiga kali setiap tahun. Untuk mencapai BEP (Break Event Point) umumnya pada panen keempat. Sedangkan pada panen kelima akan dilakukan penggantian tudung, saat itu sudah mulai meraup keuntungan. “Kami mengucapkan terima kasih banyak atas ilmu dan bantuan finansial yang telah diberikan kepada kami. Saat ini hambatan yang dialami yakni proses packing house-nya yang masih menggunakan rumah penduduk. Kami berharap paguyuban mempunyai packing house sendiri khusus untuk krisan,” kata Suharso.Petani Krisan Sukardi menyatakan selama ini permintaan dari toko bunga di Jogjakarta sangat tinggi. Bahkan kemampuan petani bisa mamasok masih keteteran, bahkan baru bisa menyetok satu toko bunga saja di Jogjakarta. “Untuk hama sudah berkurang, hanya benih belum semuanya terpenuhi. Untuk warna bunga tertentu yang sering diminati florist kadang masih terbatas, seperti kuning dan putih,” katanya. (tom/iwa)