JIKA yang lain hadir dengan mengendarai mobil, tidak demikian dengan warga Magersari, Candibinangun, Pakem itu. Wawan yang maju lewat daerah pemilihan 1 justru bangga saat hadir mengendarai gerobak sapi. Pria kelahiran 8 Pebruari 1970 itu memerankan sebagai “bajingan” alias pengendali gerobag sapi. Selain sebagai wujud syukur setelah dua kali (2004 dan 2009) gagal masuk gedung parlemen, Wawan ingin menunjukkan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa keberadaan kendaraan rakyat yang merupakan warisan peninggalan nenek moyang sudah hampir punah. “Kalau banyak tokoh pejabat mau nguri-nguri gerobak sapi tentu tidak akan punah,” ujar Wawan yang memperoleh 6.776 suara.
Wawan sendiri tidak sekadar pamer gerobak sapi. Dia memang memiliki gerobak plus sapinya. Dan pernah memelihara sapi di lahan seluas satu hektare. Setidaknya, Wawan punya harapan langkahnya bisa ditiru oleh masyarakat. “Intinya melestarikan budaya,” tegasnya. Nah, setelah resmi dilantik sebagai anggota dewan, Wawan punya kesempatan mengimplementasikan buah pikirnya, untuk melestarikan gerobak sapi. Dia menjanjikan akan mengawal kebijakan yang mengarah pada kesejahteraan petani kecil, khususnya pemilik gerobak sapi. Bahkan, Wawan punya angan-angan, para pemilik gerobak sapi diusulkan agar mendapatkan subsidi untuk merawat gerobak sapi, meski nilainya tak besar. Sebab, saat ini banyak pemilik gerobak sapi tidak mampu merawat kendaraan “wong cilik” pada masa lalu itu secara baik. Apalagi saat ini banyak petani kecil terpuruk lantaran harga pasaran sapi kian tidak menentu.
Kondisi itu mengakibatkan gerobak usang dan rusak, lantaran petani tidak punya dana untuk perawatan. Dengan begitu, gerobak tidak lagi bisa difungsikan seperti sedia kala. “Selama ini kurang perhatian dari pemerintah,” tudingnya. Dengan adanya subsidi bagi pemilik gerobak sapi, Wawan berharap tidak hanya wujud fisik kendaraan khas itu yang eksis, tapi juga hewan penariknya. Bagi petani kecil, sapi adalah tabungan hidup sekaligus kebanggaan. (*/din)