TERNYATA, banyaknya wisatawan yang ke Candi Borobudur memberikan dampak buruk bagi lantai tangga candi. Dari tahun ke tahun, tangga Candi Buddha tersebut mengaus. Bahkan, akibat terlalu banyak wisatawan yang menginjak langsung lantai tangga candi, tingkat keausan lantai tangga cukup besar, mencapai 49 persen.Tingkat keausan lantai tangga terjadi saat wisatawan naik dari lantai satu ke lantai berikutnya melalui tangga. Akibat tidak adanya pelapis antara tangga candi dan alas kaki wisatawan, menyebabkan terjadinya gesekan. Kejadian tersebut terjadi di semua sisi tangga Candi Borobudur.
Secara keseluruhan, jumlah batu pijakan ada 2.033 tersebar di empat titik. Yakni sisi barat, timur, selatan, dan utara. Sementara jumlah keausan batu pijak terdapat 1.028 aus bidang. Sementara keausan sekitar 49,15 persen.Kepala Seksi Layanan Konservasi Balai Konservasi Borobudur (BKB) Iskandar M. Siregar menilai, keausan karena lantai tangga untuk lewat wisatawan yang ke lantai atasya. Bahkan, di beberapa bagian, tingkat keausan cukup tinggi. “Sementara untuk lorong candi tidak mengalami keausan,” ungkap Iskandar, saat mempersiapkan acara peringatan 200 tahun ditemukanya Candi Borobudur, kemarin (13/8).Iskandar melanjutkan, mengantisipasi mengausnya candi eausan, BKB pernah memberlakukan kebijakan soal pembatasan pengunjung di lantai candi. Namun, saat libur Lebaran kemarin kebijakan tersebut tak bisa diberlakukan kembali. Mengingat jumlah pengunjung yang cukup banyak.
Berdasarkan kajian beberapa pihak, BKB berencana melapisi lantai tangga dengan kayu. Namun, pelapis kayu belum menjadi kebijakan untuk segera diterapkan. Besar kemungkinan, BKB akan memutuskan pelapis tangga candi pada akhir tahun ini. “Memilih kayu sebagai lapisan, karena melalui kajian di negara-negara Asean. Kami menilai kayu lebih aman dibanding bahan lain. Pengaruh terhadap batuan candi yang paling sedikit adalah kayu. Tapi penggunaan kayu masih diusulkan. Nanti di kesempatan seminar yang menentukan,” katanya.Pada awal temuan candi tersebut, sebenarnya sudah menjadi catatan wakil menteri (Wamen) Kebudayaan RI bahwa lantai tangga perlu mendapat perhatian. Sesuai pengamatan, sedikit banyak ada yang aus pada batu-batu candi. Sehingga harus ditanggulangi dengan lapisan tangga dengan kayu. Nantinya, kayu akan diuji dengan konstruksi. “Tahun lalu, kami pernah uji degan kayu jati. Sekarang, menggunakan kayu besi. Ini bukan kajian awal. Keputusan peggunaan pelapis lantai pada Desember saat seminar ilmiah. Kalau jadi, bisa dibayangkan biayanya,” katanya.
Sementara itu, Kabid Humas dan Protokol PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Marvana Eka Rahmadi mengungkapkan, jelang peringatan 2 abad, Candi Borobudur mencatatkan sejarah dalam kunjungan terbanyak. Saat libur Lebaran lalu, pengunjung Candi Borobudur mencapai puncaknya. Yakni pada H+3 wisatawan yang berkunjung mencapai 57. 456 orang. “Puncak kunjungan H+3 merupakan sejarah bagi pengelola Candi Borobudur. Sejak tahun 1980, puncak tertinggi mencapai 57 ribu pengunjung,” katanya.Rekor pengunjung tersbeut merupakan hasil kerja keras semua elemen. Serta, tidak lepas dari adanya hiburan tambahan yang disediakan. Yang pasti, terkait adanya zero accident dan tidak adanya komplain yang mencolok saat libur Lebaran. “Situasi dan capaian ini merupakan hasil kerja keras semua unit. Semua pihak tidak terkecuali tukang sapu,” katanya.(*/hes)