JOGJA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ tampaknya tak mau mengulur-ulur waktu dalam menyidik kasus dugaan korupsi penjualan tanah milik UGM di Plumbon, Banguntapan, Bantul. Setelah sempat tertunda, akhirnya tim penyidik berhasil menyita dua bidang tanah dari tangan tersangka Triyanto yang ada di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Sleman, kemarin (13/8). Penyitaan tanah seluas 3.188 m2 dan 5.926 m2 tersebut dipimpin langsung Kasi Penyidikan pada Aspidsus Kejati DIJ Ansar Wahyudin SH. Saat penyitaan, tersangka Triyanto dan penasihat hukumnya Heru Lestarianto SH ikut menyaksikan pemasangan papan penyitaan tersebut.Penyitaan tanah tertuang dalam surat perintah penyitaan Kejati DIJ Nomor 348/0.4.5/td.1/08/2014 tertanggal 8 Agustus 2014 dan Penetapan Pengadilan Tipikor Jogja Nomor 09/Pen.pid.sus-Tpk/VIII/2014/PN.Yyk tertanggal 7 Agustus 2014.”Pemasangan papan penyitaan untuk menegaskan bahwa dua bidang tanah tersebut telah disita penyidik untuk keperluan penyidikan atas perkara dugaan korupsi penjualan tanah milik UGM di Plumbon, Banguntapan,” kata Kasi Penerangan Hukum Kejati DIJ Purwanta Sudarmaji SH kemarin.
Menurut Purwanta, pemasangan papan penyitaan sempat tertunda sehari. Sedianya papan penyitaan dipasangan pada Selasa (12/8), tapi urung dilakukan karena tersangka tidak dapat hadir di lokasi untuk menyaksikan pemasangan papan tersebut. “Tadi saat pemasangan tersangka dan penasihat hukumnya hadir,” tambah Purwanta.Penasihat Hukum Triyanto, Heru Lestarianto SH mengatakan kliennya akan terus mengikuti proses hukum yang tengah berjalan. Ia pun menghormati proses penyitaan dua bidang tanah di Wukirsari, Cangkringan dan uang tunai oleh penyidik kejati. “Kami ikuti saja apa yang dilakukan penyidik,” kata Heru.Selain mengikuti proses penyidikan, Heru mengaku telah menyiapkan saksi ahli untuk meringankan ke-4 kliennya. Saksi itu akan diajukan dalam proses penyidikan dan persidangan di Pengadilan Tipikor Jogja mendatang. “Kami sudah siapkan saksi ahli meringankan,” terang Heru.
Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DIJ Azwar SH mengatakan, tim penyidik masih terus mengumpulkan alat bukti, termasuk mengumpulkan alat bukti untuk menentukan ada tidaknya pidana lain seperti tindak pidana pencucian uang (TPPU). Namun demikian, lanjut Azwar, dua bidang tanah di Wukirsari yang telah disita penyidik tersebut merupakan milik tersangka Triyanto. Tanah itu dibeli pada 2006.”Diduga, tanah di Wukirsari tersebut dibeli dengan menggunakan uang hasil penjualan tanah di Dusun Plumbon,” terang Azwar. Selain menyita dua bidang tanah, penyidik telah menyita uang miliran rupiah dari para tersangka. Kini uang itu dititipkan di sebuah bank milik negara. “Kami juga sedang mengejar aset-aset lain yang diindikasikan berasal dari uang hasil penjualan tanah di Dusun Plumbon,” papar Azwar.Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM Hifdzil Alim SH mengatakan penyidik dapat menjerat para tersangka dengan pidana TPPU. Hal itu dapat dilihat uang hasil penjualan tanah di Dusun Plumbon digunakan untuk membeli dua bidang tanah di Wukirsari. Namun demikian, untuk memperkuat dugaan tersebut penyidik harus menemukan alat bukti yang cukup.”Penyidik dapat menerapkan UU No 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,” kata Boy, sapaan akrab Hifdzil Alim.Dalam perkara ini, kejati menetapkan empat tersangka sekaligus. Yakni, mantan Dekan Fakultas Pertanian UGM yang saat ini menjabat Ketua Majelis Guru Besar UGM Susamto, Wakil Dekan III Bidang Keuangan, Aset, dan SDM Fakultas Pertanian UGM Triyanto, dan dua dosen Fakultas Pertanian UGM yaitu Ken Suratiyah dan Toekidjo. (mar)