JOGJA – Banyak masyarakat yang tidak tahu di Indonesia pernah berdiri kerajaan pada abad VIII dan X. Kerajaan itu bernama Medang. Kerajaan yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur ini meninggalkan banyak situs yang menunjukkan kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan masa itu. Peninggalan tersebut di antaranya Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Arjuna Dieng, dan Gapura Keraton Ratu Boko. Borobudur dan Prambanan telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Saking banyaknya situs peninggalan Kerajaan Medang membuat sekelompok masyarakat pecinta warisan Medang terpanggil.
Mereka berniat melakukan penilitian untuk mengumpulkan berbagai situs peninggalan Kerajaan Medang. Sebab, situs peninggalan Kerajaan Medang dipercaya sebagai warisan budaya yang agung sehingga perlu dilestarikan.”Untuk menelusuri data dan situs peninggalan peradaban Kerajaan Medang kami akan melibatkan lima hingga enam arkeolog,” kata Ketua Pengurus Masyarakat Pecinta Warisan Medang Budiono Santoso usai seminar tentang Kerajaan Medang di UGM (13/8).Selain Budiono, hadir sebagai pembicara yakni sejarawan UGM Riboet Darmosoetopo, Guru Besar Fakultas Geografi UGM Suratman, Staf Ahli Kemenristek Ichwan Sukardi, dan Budayawan Jaya Suprana.
Menurut Budiono, tidak hanya arkeolog saja yang akan dilibatkan. Lembaganya akan mengajak pemerhati sejarah untuk menelusuri peninggalan Kerajaan Medang. Situs Kerajaan Medang tersebar di Temanggung, Magelang, Purbalingga, Salatiga, dan Wonosobo. Kelima kabupaten tersebut pernah menjadi pusat Kerajaan Medang.”Pada masa Kerajaan Medang, Kompleks Candi Ratu Boko merupakan tempat pemukiman para bangsawan,” kata Budiono.
Riboet mengatakan pengaruh Kerajaan Medang tidak hanya di Jawa tapi meluas hingga Filipina bagian selatan. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti di Filipina selatan bertahun 822, berbahasa Melayu kuno, beraksara Kawi, dan berisi tentang utang-piutang. “Bahasa Melayu kuno, termasuk bahasa Kawi, tersebar luas saat itu hingga Madagaskar. Tidak lain karena keberhasilan transportasi kapal untuk keperluan dagang,” kata Riboet.Peninggalan budaya Medang mengagumkan. Melimpahnya padi membuat Kerajaan Medang menjadi pengendali perdagangan barang tingkat lokal dan regional.
Melimpahnya produksi pertanian tidak lepas dari kemajuan teknologi yang ditemukan di masa itu. Kemajuan teknologi lain pada masa Kerajaan Medang dapat dilihat dari berbagai data yang berada di Candi Borobudur dan berbagai prasasti yang ada di dalamnya. Borobudur didirikan dalam waktu antara 50 hingga 75 tahun. “Ini pengalaman yang harusnya bisa kita petik, jangan sampai ganti presiden, ganti menteri, justru menghentikan proses pembangunan dari bangunan yang sudah dibangun sebelumnya,” sindir Riboet.Namun, Riboet mengakui bahwa penelitian tentang sejarah Kerajaan Medang masih sangat minim. Karena itu, ia bersama pecinta warisan Medang akan menggali lebih banyak lagi mengenai situs peninggalan Kerajaan Medang.
Jaya Suprana mengatakan sejarah Kerajaan Medang dapat menjadi inspirasi membangun bangsa. Dari sejarah itu pula bisa diketahui kehebatan bangsa di masa lalu. Sedangkan Ichwan Sukardi mengatakan candi dan hasil budaya yang ada di Indonesia bukan semata-mata monumen kejayaan masa lalu. Dari peninggalan tersebut dapat diungkapkan berbagai pencapaian di bidang ilmu pengetahuan, tata negara, perekonomian, seni dan agama. (mar/iwa)