SELEPAS merayakan Lebaran bersama sanak keluarga di kampung, Herman tak ingin membuang waktu dan mengemasi bendera serta aksesoris keperluan peringatan 17 Agustus lainnya. Bersama empat teman sekampung, dia menyewa truk dan mencari kota tujuan yang strategis untuk menjajakan bendera hasil buatannya dan warga di kampung.”Di kampung kami memang sentra pembuatan bendera serta aksesoris perlengkapan 17 Agustus,” ujarnya. Laki-laki paruh baya berusia 32 tahun ini merupakan satu di antara pedagang musiman lain yang saat menjelang usia RI ke 69, mencoba peruntungan dengan menjual replika Merah Putih dan aksesorisnya. Di tepi ruas jalan Jogja-Solo, Herman bersama empat temannya mengadu peruntungan.
Berjualan bendera bukan hal baru bagi Herman. Hampir setiap tahun, kegiatan musiman ini sudah menjadi rutinitasnya selama delapan tahun terakhir. Meninggalkan pekerjaan sebagai sopir kontainer dan keluarga selama tiga minggu, menjadi agenda tahunan menjelang 17 Agustus.”Biasanya tiga minggu sebelum 17 Agustus kami sudah berangkat dan mencari tempat strategis, dari satu kota ke kota lain, dan kali ini ke Jogja. Ya, yakin saja di sini penjualan bagus,” ujarnya dengan logat Sunda yang khas.Kali ini, Herman dan teman-teman membawa 200 kodi (satu kodi berisi 20) bendera, umbul-umbul dan aksesoris. Selain bendera, dirinya membawa aksesoris merah putih. Selain bendera merah putih dengan beragam ukuran, dirinya juga membawa umbul-umbul, bandir, backdrop panjang dan sebagainya. “Bandir dengan gambar Soekarno sudah ada sejak tahun lalu. Tahun ini ada bandir dengan motif batik, karena batik memang ciri khas Indonesia. Kemarin sempat ada yang tanya ada yang gambar Pak Jokowi atau tidak,”ujarnya.
Optimisme Herman tidak hanya pada Jogja yang dinilai strategis sebagai tempat berjualan, namun juga tanggal 17 Agustus yang jatuh selepas Lebaran. Menurutnya, harapannya akan lebih menguntungkan dibanding tahun lalu. Karena lomba-lomba dan perayaan HUT RI akan lebih meriah.Namun, tinggal jauh dari keluarga juga tetap harus diperhitungkan. Pasalnya, selama tinggal di Jogja dirinya menyewa satu kamar untuk ditinggali bersama empat temannya. Sehingga sekembalinya ke Garut tanggal 16 Agustus nanti, dirinya tak hanya balik modal tapi juga mendapat untung.”Tahun lalu bisa untung Rp 5 juta, semoga tahun ini bisa lebih banyak, tapi ya kita hidup prihatin dulu dan hemat biaya,”ujar Herman. (*/laz)