MELALUIKelompok Ternak Pager Mulyo, warga membuat instalasi digester pengolahan limbah ternak menjadi biogas. Gas yang dihasilkan dari kotoran sapi itulah yang dimanfaatkan warga Pageran untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.Ketua Kelompok Ternak Pager Mulyo Wakidi mengatakan, penggunaan biogas bisa menghemat lebih dari 30 persen dibanding dengan gas dari Pertamina. Sebelumnya, Wakidi harus merogoh kocek hingga Rp 70 ribu untuk membeli isi gas ukuran 3 kilogram untuk empat tabung setiap bulannya.Awalnya, penggunaan biogas memang terkesan mahal. Itu terletak pada instalasinya, yang setiap unit mencapai Rp 15 juta. Setelah beroperasi, barulah beban kebutuhan gas terasa ringan.
Dinas Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) melakukan pilot project di tujuh lokasi sejak Mei 2014. Di wilayah Tempel ada dua lokasi. Selain itu di Moyudan satu lokasi, Cangkringan dua lokasi, dan Kalasan dua lokasi juga. Masing-masing lokasi mendapat bantuan digester dan manometer. “Ini untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada gas dari LPG dan kayu bakar,” ungkap Kepala Seksi Pengembangan Purwoko saat meninjau proyek percontohan di Tempel kemarin (14/8).Purwoko menekankan pemanfaatan biogas sebagai sumber energy alternatif yang efektif. Setelah instalasi dipasang, biogas bisa dimanfaatkan setelah tiga bulan.
Proses pembentukan biogas butuh waktu hingga dua minggu. Kotoran sapi digiling dan dimasukkan dalam digester. Proses dalam tabung digester tak mengakibatkan reaksi eksplosif seperti LPG. Gas juga tidak berbau seperti produk Pertamina. Selain gas, limbah cair hasil pengolahan digester bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Setiap instalasi mampu menghasilkan 5 meter kubik gas per hari, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga rumah tangga. Itu hanya membutuhkan bahan baku telethong dari dua ekor sapi. “Pilot project dengan dana APBD Rp 120 juta,” jelas Purwoko.
Dinas SDAEM sebagai leading sector yang membidangi sumber daya energy sengaja merintis pembuatan biogas karena sampai saat ini masih jarang dimanfaatkan secara masal. Nantinya, digester akan dilengkapi jaringan pipa ke rumah-rumah warga agar gas bisa dimanfaatkan secara lebih luas. Salah seorang yang telah memanfaatkan biogas dari telethong sapi di antaranya Ratih, 18, warga Tempel. Kompor gas di rumahnya telah tersambung jaringan biogas dari kelompok ternak. “Baru seminggu, sih, tapi manfaatnya sudah terasa. Kualitasnya tidak kalah dengan gas elpiji. Nyala apinya biru,” ujarnya.Ratih juga telah terbiasa dengan kegiatan rumah tangga baru. Yakni mengisi digester dengan telethong sapi. Dengan begitu, Ratih justeru bisa mengerjakan satu hal dengan dua manfaat. Yakni, membersihkan kandang sapi sekaligus mengisi digester. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ratih mengisi digester cukup sekali dalam tiga hari. “Tunggu dua jam setelah kotoran dimasukkan, gas akan muncul lagi,” lanjutnya.(*/din)