SLEMAN – Konflik berkepanjangan di kawasan Jalur Gaza, Timur Tengah menuai keprihatinan banyak pihak. Universitas Islam Indonesia (UII) menginisiasi upaya perdamaian dan terpanggil untuk ikut peduli terhadap dampak dari konflik di wilayah itu.Kepedulian itu ditunjukkan melaui seminar bertema “Tinjauan Kritis Konflik Palestina dan Tragedi Gaza” kemarin (14/8). Rektor UII Dr Ir Harsoyo MSc menilai perlu adanya pendekatan analisis yang luas dan mendalam dari berbagai kajian agar dapat tercipta resolusi aplikatif yang selama ini belum tercapai. Salah satunya melalui telaah kritis yang dapat menghasilkan alternatif jalan keluar untuk mendukung upaya deskalasi konflik Palestina dan Israel. “Kami ingin memberikan sumbangsih pemikiran demi tercipta perdamaian di Gaza,” ujarnya.
Wakil Rektor I Dr Ing Ilya Fadjar Maharika MA IAI mengatakan, konflik antara Israel dan Palestina tidak hanya bisa ditinjau dari segi politik. Aspek arsitektural bisa menjadi sudut pandang lain.Selama ini konflik yang terjadi seakan-akan hanya antara dua entitas Israel dan Palestina. Menurut Maharika, Israel sering menggunakan ilmu arsitektur dengan menjadikan permukiman sebagai salah satu cara mengokupasi wilayah yang kemudian diikuti kehadiran negara dan militer sebagai penguat dan pelindung permukiman.Hal ini dapat dilihat dari langkah-langkah Israel dalam mencaplok wilayah Palestina satu demi satu. Hingga wilayah Israel terus berkembang berkali lipat dari wilayah semula yang dimilikinya pada tahun 1948. “Israel menggunakan strategi perambahan permukiman lewat dimasukkannya permukim Yahudi di wilayah perbatasan,” tuturnya. Israel juga melakukan pendekatan antropologis dengan klaim, tanah di wilayah tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Israel 2.000 tahun silam sehingga didirikan pemukiman atau monumen.
Guru Besar Fakultas Hukum UII Prof Jawahir Thontowi SH PhD berpandangan, Israel telah melakukan kejahatan terorisme negara terhadap penduduk Palestina. Hal ini dapat dilihat dari adanya dukungan pemerintah Israel terhadap kebijakan penggunaan kekerasan, pemaksaan, dan intimidasi kepada warga Palestina.Tim Dokter Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr Joserizal Jurnalis SpB menilai ada persoalan yuridis dalam konflik Palestina. Israel sengaja menciptakan suasana agar warga Gaza tidak betah tinggal di kampung halamannya, sehingga memutuskan ekspansi. “Ada keinginan tersembunyi dari Israel untuk mengusir masyarakat Palestina dari tempat kelahirannya. Contohnya di wilayah Tepi Barat,” ungkap dokter yang baru saja menjadi relawan di Gaza itu.(yog/din)