MAGELANG – Tiga orang pelaku pelempar bom molotov di rumah wartawan Jawa Pos Radar Jogja Frietqi Suryawan alias Demang mulai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Magelang, kemarin (14/8).Dalam sidang perdana itu ketiga terdakwa masing-masing Choirun Naim, 38, Heri Utama, 39, dan Yordan Setiawan alias Yoyo bersikap kompak. Mereka menolak didampingi penasihat hukum dengan alasan tidak memiliki biaya. “Kenapa tidak memakai kuasa hukum. Kami majelis hakim perlu tanyakan ini karena pasal yang didakwakan ancaman hukumannya melebihi lima tahun,” kata Ketua Majelis Hakim H Irwan Effendi SH MH.
Menjawab pertanyaan hakim itu, Choirun yang tinggal di Kampung Krajan RT2/RW1 Maduretno, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, mengaku tidak memakai kuasa hukum karena tak memiliki dana. Hal sama disampaikan Heri Utama yang bermukim di Sangrahan Legok RT6/RW 9 Wates, Magelang Utara, dan Yordan Setiawan alias Yoyo penduduk Jalan Rama 33 RT 8/RW 3, Samban, Kelurahan Panjang, Magelang Tengah. “Tidak (pakai). Tidak sanggup (bayar),” tutur Naim yang juga diikuti oleh dua terdakwa lain saat ditanya majelis hakim dalam sidang yang digelar secara terpisah.
Naim juga menolak tawaran hakim. Saat itu, dia ditawari kemungkinan menggunakan jasa advokat yang dibayar oleh negara sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya. “Gratis, tidak usah bayar,” ucap Irwan yang sehari-hari menjabat wakil ketua PN Magelang ini.”Tidak usah,” jawab Naim. Sikap serupa juga ditunjukkan Heri dan Yoyo.
Dengan menolak didampingi kuasa hukum, sidang kasus tersebut diperkirakan bakal berjalan lebih cepat. Sebab, agenda eksepsi atau keberatan atas dakwaan bakal ditanggalkan. “Sidang dilanjutkan Kamis (21/8) mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi,” tutur Irwan.
Dalam sidang itu, Irwan sedianya didampingi dua hakim anggota Delta Tamtama SH MH, dan Ernila Widikartikawati SH. Namun karena ada keperluan lain, keduanya kemudian digantikan Tri Riswanti SH Mhum, dan Saut Erwin Hartono A Munthe SH MH. Sedangkan panitera pengganti adalah Asih Tri EsthiSH, dan Dian Andayani SH.
Sidang perdana tersebut berlangsung sekitar 30 menit. Ruangan sidang dihadiri beberapa kerabat dekat terdakwa, dan awak media massa, serta aparat kepolisian bersenjata lengkap. JPU Sandra Liliana Sari SH menjelaskan, berkas dakwaan ketiga terdakwa sengaja dibacakan secara terpisah. Itu sesuai dengan berkas yang diajukan penyidik dari kepolisian. ” Untuk pasal yang dikenakan adalah pasal 185 KUHP bagian pertama tentang pembakaran, dan pasal 187 KUHP tentang peledakkan yang membahayakan orang lain, dan pasal 55 karena dilakukan secara bersama-sama,” kata Sandra usai persidangan.
Sandra menambahkan, berdasarkan keterangan terdakwa, awalnya bernia menganiaya korban yang tinggal di gang Jagoan III, Jurangombo Utara, Magelang Selatan. Saat hendak melancarkan aksinya, mereka melihat ada orang lain sehingga mengurungkan niatnya. Mereka kemudian memilih melemparkan botol berisi bensin yang sudah tersulut api. “Intinya, mereka niatnya memukuli, tapi ternyata di depan rumah korban ada orang yang melihat. Kemudian, mereka melemparkan botol itu,” ujar dia,
Di sisi lain, Demang, yang menjadi korban perkara pembakaran tersebut memilih menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum. Ia juga memercayakan tegaknya supremasi hukum kepada PN Magelang. Namun demikian, Demang menilai, pernyataan ketiga terdakwa di muka persidangan sulit dicerna dengan logika. “Banyak kalimat yang tidak nyambung. Contohnya, kalau dari awal niat mau menganiaya, kenapa mereka sudah menyiapkan peralatan motolov. Pernyataan ini menimbulkan persepsi yang sulit dinalar. Ini yang harus diungkap dalam persidangan nantinya,” tegasnya.
Ia berharap, persidangan perkara tersebut mampu mengungkap fakta-fakta yang selama ini belum banyak terungkap. Diakui, akibat kasus itu telah membawa dampak buruk bagi insan pers. Karena itu, Demang berharap perkara itu dapat ditangani secara profesional dan proporsional. Dalam kesempatan itu, Demang juga tak percaya dengan keterangan terdakwa yang berencana membakar rumahnya karena alasan dendam pribadi. “Secara nalar tidak mungkin seseorang memiliki dendam pribadi jika tidak ada interaksi. Lalu, berita apa yang saya buat, sehingga mereka ( ketiga terdakwa) dipecat dari pekerjaannya,” ucapnya. (ady/hes)