JOGJAKARTA kembali mendapatkan undangan Pawai Seni dan Budaya Nusantara 2014. Pawai digelar dalam rangka memperingati kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia. Untuk mengikuti pawai di Jakarta 18 Agustus mendatang itu, Jogja akan mengirimkan 100 orang peserta pawai.
Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sudah memasuki hitungan jari. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut hari bersejarah ini. Hal yang sama juga dilakukan oleh puluhan pelaku seni dan budaya di Jogjakarta. Mereka bersiap-siap mengikuti Pawai Seni Budaya Nusantara di Jakarta, 18 Agustus mendatang.
Ketua pelaksana lapangan Drs Yata mengungkapkan, pawai ini merupakan kegiatan rutin. Jogjakarta sendiri telah mengikuti pawai ini setiap tahunnya. Partisipasi Jogjakarta atas undangan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Pawai ini merupakan miniatur keragaman dari kekayaan seni dan budaya lndonesia yang rutin digelar setiap tahun. Tentunya kita wajib bangga, karena kekayaan seni budaya lokal turut terangkat, ” katanya saat ditemui di Kantor Dinas Kebudayaan Jogjakarta (14/8).
Tahun ini secara khusus kontingen Jogjakarta menghadirkan konsep prosesi penobatan Raja Keraton Jogjakarta. Melengkapi konsep ini, tema Tahta Rakyat pun turut diusung. Persiapan matang telah dilakukan untuk mengikuti pawai ini. Sebelumnya pada hari Senin (11/8), kontingen melakukan geladi bersih di Lapangan SMKI Bantul. Meski baru prosesi geladi bersih, para pemain telah menggunakan busana lengkap. Selain itu juga meruntutkan prosesi saat raja Jogjakarta dinobatkan.
Prosesi jumenengan ini juga menggandeng kesenian tradisional. Selain kesenian tradisional, kesenian rakyat juga dihadirkan. Untuk kesenian kerakyataan tahun ini mengusung tari Badui dari Kabuputen Sleman. “Untuk Badui akan hadir kurang lebih 30 orang. Badui dipilih karena merupakan kekayaan Sleman. Memiliki gerakan yang rampak dan pola-pola tertentu. Bedanya kali ini Badui menyesuaikan pola-pola gerak yang lebih atraktif, dan tentunya disesuaikan dengan tema garapan yang ditampilkan,” kata Yata.
Tema Tahta Rakyat diangkat sebagai tema karena merupakan bukti dari kepemimpinan Raja Jogjakarta, di mana seorang pemimpin harus adil paramarta serta manjing ajur ajer dengan rakyat. Sehingga dapat melahirkan manunggaling kawula lan gusti. “Dengan bersatunya antara pemimpin dengan para kawula, maka terciptalah sebuah negeri yang adem, ayem, tentrem serta gemah ripah loh jinawi,” kata Yata.
Dipilihnya jumenengan Raja Jogjakarta pun atas pertimbangan matang. Selain mengembangkan nilai-nilai, juga menambah khasanah pengetahuan tentang keberadaan Keraton Jogjakarta. Tentunya dapat melahirkan rasa memiliki yang sangat kuat.
Yata menambahkan, dengan diusungnya budaya tradisi dan kerakyatan turut memperkuat budaya nasional, di mana sebagai tonggak dasar dapat menyokong kekuatan sebuah bangsa. Meningkatnya kesadaran bahwa adat istiadat serta budaya tradisi adalah sebagai pengampu dan penunjang perilaku kehidupan sehari-hari. “Menyuguhkan juga sebuah kilas balik tentang sejarah keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang melebur menjadi satu dengan NKRI,” kata Yata.
Garapan ini, lanjut Yata, bertujuan membuka pikiran generasi muda. Dari situ diharapkan mampu menggugah kembali rasa hormat dan rasa cinta Indonesia. Juga rasa memiliki keragaman budaya sebagai kekayaaan nasional.
Sebuah mobil hias akan disulap menjadi Bangsal Manguntartangkil tempat raja Jogjakarta dinobatkan. Miniatur prosesi jumenengan akan dihadirkan secara lengkap. Terutama tentang tahta yang diberikan oleh rakyat Jogjakarta kepada rajanya. “Salah satunya ketika Sri Sultan Hamengku Buwono bersumpah dan berjanji untuk Hamengku, Hamangku, dan Hamangkoni,” kata Yata.
Dalam pawai ini pula akan diusung nilai sejarah yang mengandung kearifan, di mana akan menonjolkan kekuatan seni dan budaya Jogjakarta. Selain tokoh raja Jogjakarta dan tari Badui, ada pula tari Lawung, tari Bedayan, dan juga tokoh Kanjeng Ratu Kidul. “Ada tokoh ratu laut selatan yang dihadirkan dalam pawai kali ini. Hal ini karena kepercayaan masyarakat Jogjakarta bahwa Keraton Jogjakarta masih ada hubungan dengan kerajaan pantai selatan,” kata Yata.
Yata menambahkan, pawai akan diikuti 34 provinsi di Indonesia. Semuanya menampilkan kekayaan seni budaya dan kearifan lokal. Partisipasi kontingen Jogjakarta sendiri rutin setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2013, Jogjakarta masuk dalam 10 besar pawai terbaik.
Pawai Seni dan Budaya Nusantara 2014 akan mengambil rute dari Monumen Nasional (Monas) ke arah Istana Merdeka. Di Istana Kepresidenan ini kontingen Jogjakarta tampil selama 2,5 menit.Untuk pawai tahun ini, Dinas Kebudayaan Jogjakarta melibatkan seniman dan civitas akademi di Jogjakarta. “Tentunya kita akan tampil secara total dalam menyajikan kekayaan seni budaya dan tradisi Jogjakarta. Sehingga mampu menarik warga yang menonton nanti untuk datang ke Jogjakarta,” harap Yata. (*/laz)