MUNGKID – Dinas Tenaga Kerja Soaial dan Transmigrasi (Disnakersostran) Kabupaten Magelang tengah menangani kasus tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia yang hilang kontak. TKW tersebut bernama Rihanatun, 29, warga Dusun Kembang, Desa Jambewangi, Kecamatan Pakis. Ia berangkat ke Malaysia delapan tahun lalu. Hingga kini, orang tua dan keluarganya kehilangan kontak dengan Rihanatun.
Plt Kepala Disnakersostran Kabupaten Magelang Endot Sudiyanto menyatakan untuk menelusuri keberadaan TKW tersebut, pihaknya mengundang beberapa mantan perangkat desa Jambewangi. Sebagai tahap awal, ia menelusuri melalui data terkait kasus tersebut. “Ternyata benar, seusai kartu keluarga yang kami peroleh dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Rihanatun merupakan anak pertama dari dua anak Rohmadi (Slamet Rohmadi, Red) warga Kembang, Jambewangi, Kecamatan Pakis. Selanjutnya, kami memanggil perangkat desa yang memberikan surat-surat sebagai syarat Rihanatun berangkat menjadi TKW di Malaysia delapan tahun lalu,” papar Endot usai menemui mantan perangkat Desa Jambewangi di kantornya, kemarin (15/8).
Saat mengundang para perangkat Desa Jambewangi, hadir dua orang. Yakni, Mantan Kepala Desa R Widiyanto dan Eko Triyono, mantan Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan. Terungkap jika Rihanatun benar mengurus syarat-syarat untuk berangkat ke Malaysia sebagai TKW melalui jasa penyalur tenaga kerja di Kecamatan Grabag. “Waktu itu yang mengantarkan Rihanatun ke kantor penyalur tenaga kerja adalah Eko Triyono. Saat itu, ia (Eko, Red) masih menjadi kaur pemerintahan,” papar Endot.
Setelah konfirmasi tersebut, Disnakersostran Kabupaten Magelang segera memanggil keluarga dan pihak penyalur tenaga kerja. Pemanggilan akan dilakukan pada Senin (18/8). “Yang jelas, untuk saat ini kami belum tahu keberadaannya. Apakah betul dia ke Malaysia atau tidak, kami juga belum bisa memastikan. Kami juga tidak berani pastikan, apakah Rihanatun berangkat secara legal atau ilegal,” ungkap Endot.
Eko Triyono mengakui telah membantu menguruskan syarat-syaratnya. Bahkan, ia mengantarkannya ke kantor jasa penyalur tenaga kerja tersebut. “Saya sendiri juga yang mengantarkannya ke kantor jasa penyalur tenaga kerja. Setelah itu, saya tidak tahu lagi. Kabarnya ia berangkat ke Malaysia,” papar Eko.
Diakui Eko, Rihanatun pernah menghubunginya sekitar delapan bulan setelah bekerja di Malaysia. Waktu itu, Rihanatun menelepon kalau tidak kerasan bekerja dimajikannya. “Ia minta dibantu agar bisa pindah majikan. Sejak saat ini, nomor teleponnya tidak pernah bisa dihubungi lagi sampai sekarang,” katanya.
Kedua orang tua Rihanatun juga mengirim surat ke Bupati Magelang. Intinya, meminta bantuan memulangkan anaknya jika saat ini masih bekerja di Malaysia. Dalam suratnya, Slamet Rohmadi, 59, ayah dari Rihanatun memohon bantuan agar Bupati Magelang membantu kepulangan anaknya agar bisa berkumpul dengan keluarganya. Surat tersebut dikirim per tanggal 6 Agustus lalu. (ady/hes)