MAGELANG – Para jurnalis yang bertugas di Magelang memiliki cara unik memperingati HUT ke-69 Kemerdekaan RI. Mereka memilih bermain futsal dengan para pasien atau rehabilitant dari rumah sakit jiwa yang ada di kota gethuk tersebut.
Saat melawan mereka, ternyata para kuli tinta dikalahkan oleh lawannya. Acara yang digelar di Lapangan Kompleks RSJ Dr Soerojo Kota Magelang tersebut cukup seru. Skor akhir adalah kemenangan tuan rumah, 3-2. Meski begitu, kecerian muncul dari kedua tim. Apalagi pertandingan futsal tersebut adalah pertandingan persahabatan. “Ternyata mereka hebat. Modal semangat saja tidak cukup menghadapi mereka. Kita acungi jempol buat mereka,” ungkap salah satu Jurnalis Magelang, Asep F. Amani, kemarin (15/8).
Wartawan dari koran yang berpusat di Semarang tersebut meneruskan, para jurnalis menyadari bahwa para rehabilitant tidak boleh dianggap remeh. Karena mereka memiliki semangat yang tinggi. Kemampuan mereka dalam mengolah bola, juga tidak kalah dengan dengan pemain profesional. “Selama ini, kita anggap mereka orang yang tidak bisa apa-apa. Sebetulnya, mereka memiliki kemampuan lebih dan layak mendapat tempat di tengah masyarakat. Buktinya, mereka bisa mengalahkan kami,” papar pria asal Indramayu tersebut.
Kepala Rahabilitasi Psikososial RSJ Prof Dr Soerojo Magelang Sri Haryanti mengemukakan, tim yang diturunkan menghadapi para kuli disket adalah tim inti. Tim tersebut sering berlatih dan akan diterjunkan di Pekan Olah Raga dan Seni (Porseni) antar-RS Jiwa se-Indonesia di Singkawang, Kalimantan.
“Latih tanding ini dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-69,” jelasnya.
Selain pertandingan futsal, masih banyak kegiatan olah raga dan seni menarik lainnya yang digelar RSJ Dr Soerojo. Seperti pertandingan tenis meja, bulu tangkis, membaca pusis, menyanyi, hingga fun games.
“Ini kegiatan rutin setiap tahun. Tidak hanya melibatkan para rehabilatan dan para tenaga medis. Kami juga melibatkan pihak luar. Seperti dengan para jurnalis Magelang ini,” tegasnya.
Ditambahkan Rohyani, ketua panitia acara, seluruh kegiatan olah raga dan seni tersebut merupakan bentuk terapi untuk penyembuhan para rehabilitant. Di setiap kegiatan itu, mereka bebas mengeksplor seluruh kemampuan tanpa beban. “Lihat saja mereka tampak antusias. Tidak ada yang melamun. Kegiatan seperti ini efektif untuk mengurangi halusinasi yang kerap terjadi dalam diri mereka sebagai rehabilitant. Konsentrasi mereka terasah, mereka lupa dengan penyakitnya sendiri,” papar Rohyati.
Lebih dari itu, lanjut Rohyati, kegiatan yang melibatkan orang lain juga membantu mereka lebih percaya diri. Mereka merupakan orang yang juga memiliki kemampuan berkembang, bukan untuk dijauhi. “Ya, sebagai tenaga psikososial, kami ingin mengembalikan fungsi dan peran mereka di masyarakat. Kami berharap, masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata dengan para rehabilitant. Karena mereka sebetulnya layak dirangkul,” pinta Rohyati.(dem/hes)