MINIMNYA pelaku usaha yang mengembangkan makanan tradisional membuka peluang tersendiri bagi mereka yang berminat berwirausaha. Hal serupa dilakukan Sri Wantini. Ia memulai usahanya tersebut beberapa tahun lalu dengan mengembangkan makanan tradisonal. Yaitu, onde-onde. Berkat kemampuan melihat peluangnya, bisnis Sri Wantini kian meluas.Saat mengawali usahanya, ia berawal dari mulai langkanya makanan tradisional. Di beberapa kesempatan, makanan tradisional mulai langka ditemui. Dengan alasan tersebut, makanan tradisional peninggalan nenek moyang perlu dilestarikan. Perempuan berusia 37 tahun tersebut memulai usahanya dengan sederhana. Ia termasuk ulet. Karena harus memulai dari nol. Dirinya mencari informasi makanan tradisional hingga bagaimana cara memproduksi. Tanpa pikir panjang, ia langsung terjun langsung memproduksi. Tidak begitu rumit memproduksinya. Bahan-bahan yang digunakan tergolong mudah dicari di pasar-pasar. Makanan onde-onde terbuat dari tepung ketan, kacang hijau, dan wijen.”Awalnya, saya menangkap banyak orang tua yang mulai bosan dengan makanan modern saat akan mengisi berbagai pesta yang digelarnya. Dari peluang ini, saya menangkap ada kerinduan kembali pada snack tradisional,” ungkap Sri Wantini kemarin (17/8).
Ibu dari empat anak ini mulai bereksplorasi menciptakan makanan agar menjadi berbeda. “Dalam membuatonde-ondeini saya tidak menggunakan bahan makanan yang biasa. Bahan-bahan saya seleksi sebelum dibuat,” ungkapnya.Misal, bahan untuk kacang hijau sebagai bahan isianonde-onde. Bahan kacang hijau yang dipilih untuk produknya yang memiliki cita rasa dan kualitas terbaik. Bahkan, ia mengklaim mampu bersaing dengan makanan modern lainnya. “Selain diseleksi, bahan-bahan yang dibuat mesti dari bahan alami tanpa pengawet,” katanya.Selain kacang hijau, bahan lainnya seperti tepung ketan, tepung beras, gula, kentang serta wijen pilihan. Khusus bahan kacang hijaunya, sebelum diproduksi dibersihkan dahulu kulitnya. Sehingga isi kelihatan kuning bersih dan penuh. Isian kacang hijau hampir sama dengan yang dipakai membuat bakpia. Jika dilihat sekilas,onde-ondebuatan Sri tidak jauh berbeda denganonde-ondelainnya. Namun, yang membedakan,onde-onde buatannya berciri khas berwarna kuning dengan tatanan wijen yang rapi. Serta berisikan kacang hijau. Di samping itu, onde-ondebuatannya memiliki tekstur agak keras.
Seiring waktu, usahanya terus berkembang. Onde-ondebuatannya dijual hingga Jakarta. Bahkan, tak jarang ia mendapat order untuk acara hajatan di Jakarta, Banten, Jepara, dan Jogjakarta. Juga, pernah dipesan untuk hajatan pernikahan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Perempuan yang akrab di sapa Mbak Sri ini mengaku tidak sedikit di antara pelanggan yang memesanmentahanatau belum digoreng. Sehingga konsumen bisa menggoreng sendiri, sesuai kebutuhan dan menyajikan dalam kondisi hangat.Seperti pada musim Lebaran lalu, ia banyak menerima orderan mentahan. “Pelanggan tidak khawatir basi. Karena,onde-onde setengah jadi yang siap goreng ini mampu bertahan hingga satu minggu bila disimpan di almari pendingin,” katanya.Kini, usahanya mulai berhasil. Sedikit demi sedikit, banyak orang mulai kembali ke menu makanan tradisional. Untuk menyesuaikan perkembangan zaman, beberapa kali ia mencoba dan memodifikasionde-ondeyang dibuatnya.(*/hes)