RUMAH besar berwarna hijau di Bansari RT 05/04, Kepek, Wonosari (Gunungkidul) siang kemarin tampak sepi. Rumah Bowo Gaplek itu seperti sengaja dikosongkan setelah si umpunya Bowo Gaplek ditangkap dan ditahan di Polda DIJ.Ketika Radar Jogja sengaja menghampirinya, pintu gerbangnya tertutup rapat. Tak ada satu pun orang di sana. Meski demikian, Radar Jogja berhasil menghampiri warga setempat yang kehadirannya sebagai tetangga dekat Bowo Gaplek.Di mata orang-orang terdekat, Bowo Gaplek ternyata dikenal sebagai pribadi bersahaja dan dermawan. Bahkan di kampung halamannya, Bansari RT 05/04, Kepek, Wonosari (Gunungkidul) itu, penduduk setempat sempat tidak percaya dengan sejumlah kasus yang saat ini membelit Bowo Gaplek.
Hal itu seperti diungkapkan salah seorang tetangga Bowo Gaplek, Wahyu Wibowo. Menurut Wahyu, sebelum kasus demi kasus muncul, Bowo Gaplek, sapaan akrab di kampungnya, adalah sosok istimewa dan pantas menjadi teladan. “Kami tidak percaya kalau Pak Bowo terjerat masalah hukum. Dia orang baik, sangat baik,” kata Wahyu.Kebaikan tersebut tampak dalam prilaku kehidupan sehari-hari. Dalam bermasyarakat, Bowo Gaplek dikenal sangat oke, dikenal ramah dan baik hati. Bahkan, ketika masih muda, setiap ada hajatan di kampungnya, dia pasti datang sebagai sinoman. Dia juga dikenal sebagai sosok pria ‘sukses’. Kesuksesan Bowo Gaplek dilihat dari bangunan rumahnya yang cukup besar dan megah, jika dibanding kanan kirinya.”Pak Bowo itu orangnya dermawan. Ora owel (tidak pelit) untuk urusan membantu orang lain. Pak Bowo itu sangat dermawan,” terangnya berkali-kali..
Contoh lain, sebelum mencalonkan diri sebagai anggota dewan, di era 90-an, Bowo Gaplek berangkat naik haji. Menjelang keberangkatannya, seluruh warga kampung juga diundang. Sepulang naik haji, Bowo Gaplek semakin bersahabat dengan warga sekitar. “Sangat ramah, dan terbuka untuk siapa pun,” tandasnya.Dalam menikmati keseharian sebagai suami dan ayah bagi anak-anaknya, Bowo Gaplek juga humanis. Jika pagi dan menjelang sore, bersama istri dan buah hati, bersama-sama dalam keceriaan bermain mobil-mobilan dengan remot kontrol. “Pasangan hidup sangat serasi. Kadang kami merasa iri dengan kebahagiaan keluarga Pak Bowo,” ucap Wahyu lagi.Panilaian yang lebih, ternyata mendorong Bowo Gaplek untuk terjun ke dunia politik. Sekitar tahun 2005, Bowo Gaplek begabung dengan PAN Gunungkidul. Sebagai kader partai berlogo matahari terbit, karier politiknya moncer. Dia menduduki posisi strategis sebagai wakil ketua bidang di partai.
Hal itu juga diakui Ketua DPD PAN Gunungkidul M Dody Wijaya. Dikatakan, sejak awal masuk, pribadi Bowo Gaplek terlihat baik. Bahkan karier politiknya melejit, karena dalam pemilu legislatif (pileg) 2009, meraup kurang lebih 11 ribu suara. “Akhirnya lolos dan menjadi anggota DPRD provinsi,” terangnya.Kedekatan Dody dengan Bowo Gaplek, bisa dibilang cukup hangat. Dalam satu kesempatan, ketika ditanya ongkos politik selama berkampanye bermasa PAN (Pileg 2009), juga blak-blakan. Untuk mendulang suara kabupaten, saat itu (dengan bendera PAN), Bowo Gaplek merogoh kocek terukur. “Tidak sampai Rp 1 milar, mungkin Rp 800-an juta lah,” ungkap calon wakil ketua DPRD Gunungkidul definitif ini.Namun dalam perjalanan kariernya, tiba-tiba tersandung masalah. Kasus hukum datang bertubi-tubi, sehingga dengan pertimbangan matang, Bowo Gaplek di-PAW. Saat itu, proses PAW berjalan alot, dan menyita waktu tak kurang dari satu tahun. Keputusan PAW pada tahun 2013, waktu itu DPP sekaligus memberikan keputusan final berupa pemecatan.
Dalam proses PAW tidak berjalan mulus. Kader di tingkat bawah berontak. Sejumlah pengurus ranting mengancam mundur dari keanggotaan, jika tidak mendapatkan penjelasan mengenai alasan munculnya pemecatan dan PAW Bowo Gaplek. “Namun setelah kami berikan penjelasan, bahwa PAW dan penghentian sebagai kader, karena yang bersangkutan (Bowo Gaplek) tersangkut masalah pidana, akhirnya semua memahami,” ungkapnya.Meski demikian, karier Bowo Gaplek di ranah politik belum berakhir. Lepas dari PAN, langsung menyeberang ke Partai Gerindra. Dalam Pileg yang dilaksanakan 9 April 2014 kemarin, dia tetap mempesona di hati pendukungnya. Caleg DPRD I Dapil 7 ini, merajai perolehan suara. Dia menduduki urutan ke 2 dan mengungguli 10 kader besutan Prabowo Subianto lainnya. “Dia (Bowo Gaplek) memperoleh 6.376 suara. Sementara urutan di bawahnya, hanya selisih 47 suara dipegang caleg atas nama Andaru Pramono,” kata aktivis LSM Pemantau Pemilu Gunungkidul, Rino Caroko.Namun lagi-lagi karier politiknya tak mulus. Saat ini sebelum dilantik sebagai anggota DPRD Provinsi DIJ periode 2014—2019, Bowo Gaplek harus meringkuk di tahanan Polda DIJ akibat terlibat dugaan penipuan. (jko)