MAGELANG – Refleksi 69 tahun Kemerdekaan RI diperingati Gabungan Wartawan Magelang (GWM) dengan menggelar Upacara Bendera 17 Agustus di Puncak Gunung Tidar. Para jurnalis merasa “belum merdeka. ” Karena keberadaannya sebagai pilar ke empat dari demokrasi masih terpasung. Fungsi sebagai kontrol sosial ditekan dengan aksi-aksi kekerasan dan arogansi kekuasaan. Ini bisa dilihat dari belum tuntasnya kasus terbunuhnya wartawan Udin di Jogja dan pelemparan bom molotov rumah Wartawan Jawa Pos Radar Jogja Frietqi Suryawan, akhir Februari lalu.Di tengah pelaksanaan upacara bendera, dilakukan aksi teatrikal sebagai bentuk perasaan belum merdeka. Seorang pria terbalut kertas koran dengan mata tertutup berdiri dan membawa bendera merah putih membacakan Pembukaan UUD 1945. Tiba-tiba, ia diserang beberapa orang yang berusaha membungkam, mengekang, dan membuat dirinya tersungkur. Dengan segala daya upaya dan perjuangan, pria berbalut koran tersebut bisa menyelesaikan pembacaan Pembukaan UUD 45.”Aksi ini sebagai simbolisasi dan refleksi makna kemerdekaan RI bagi insan pers di Indonesia saat ini. Hingga kini, tidak semua wartawan bisa merdeka menjalankan tugas jurnalistiknya. Aksi teror dan kekerasan masih terus membayangi,” kata Koordinator kegiatan Asef F. Amani kemarin (17/8).
Pelaksanaan upacara juga melibatkan belasan seniman dan puluhan lembaga pers mahasiswa (LPM) di Kota Magelang. Mulai LPM Universitas Negeri Tidar (Untidar) Magelang, Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang, hingga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Magelang.”Publik tidak akan pernah lupa dengan kasus pembunuhan Udin. Memang, kasusnya kadaluwarsa pada 13 Agustus lalu karena berusia 18 tahun. Juga aksi pelemparan bom molotov pada rumah teman kami, Frietqi Suryawan alias Demang. Kejadian itu jadi catatan penting bagi masyarakat dan penegak hukum. Semestinya, tak ada lagi aksi anarkisdan teror yang menimpa pewarta,” kritik pria yang bekerja di surat kabar yang berpusat di Semarang tersebut.Sebelum aksi teatrikal, peserta berbaris rapi. Serangkaian seremonial dilakukan. Mulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, pembacaan teks Pancasila oleh seniman Bambang Eka Prasetya dan teks Proklamasi Kemerdekaan oleh mantan Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Condro Bawono atau biasa disapa Mbilung Sarawita.Aksi teatrikal dilakukan usai pembacaan teks Pembukaan UUD oleh Seniman Begawan Prabu Agung Nugroho dengan Andretopo Kalabendu, menggambarkan arogansi kekuasaan dan kekerasan yang mengancam dunia pers. Setelah itu, masuk Penyair Gepeng Nugroho yang membacakan puisi karya Gus Mus yang berjudul “Aku Harus Bagaimana” dan satu puisinya sendiri tentang keprihatinannya dengan dunia pers di Magelang yang tertindas oleh kekuasaan dan kekerasan berjudul “Merdeka itu Mutlkak”. “Merdeka tak perlu menjadi slogan dan materi reklame, sebab memang menjadi hak yang harus didapatkan bagi jiwa raga manusia. Merdeka itu bukan sekadar upacara pengibaran bendera, karena terbebas dari todongan senjata. Karena merdeka butuh penjelasan dan dipelajari dengan kitab-kitab tebal kehidupan,” papar pria yang juga menjadi pengajar seni di Universitas Tidar Kota Magelang membacakan penggalan puisinya.
Beriktunya, pembacaan geguritan “Bumi Wutah Getihku” oleh Penyair Narwan Satra Kelana. Peserta upacara membentuk lingkaran sembari memegang kain warna merah dan putih. Ini menjadi gambaran tentang Gunung Tidar.Bambang Eka Prasetya juga memainkan performa tunggal dengan mengelilingi pekerja pers Magelang yang membentuk barisan melingkar. Ia berdiri di samping bendera Merah Putih yang berdiri tegak dipegang Begawan Prabu, sembari menyampaikan pesan melalui puisi “Bendera Jarit Parang”. Salah satu pesan itu, yaitu kemerdekaan sebagai negara yang bebas dari penjajahan telah diraih bangsa Indonesia pada 69 tahun lalu. Sedangkan kemerdekaan kehidupan semua kalangan dan lapisan masyarakat Indonesia masih terus diperjuangkan.”Tak akan tergadai keberanian merah, kesucian putih. Pertanda berjuang tak pernah henti. Hari ini kukibarkan bendera jarit parang bunda, dengan berani dan suci jiwa takgentar. Melahirkan anak-anak bangsa, di antara kerikil tajam menghampar,” demikian bagian dari puisi Bambang Eka.Upacara ditutup orasi budaya oleh Hari Atmoko, wartawan senior Magelang. Ia memilih tema “Pers Magelang berangkat ke Tempat Dalam”. Pria yang juga ketua PWI Kedu ini menjelaskan soal pemilihan puncak Gunung Tidar sebagai lokasi upacara. Alasannya, di atas gunung yang konon sebagai “Pakuning Tanah Jawa” ini terdapat sasmita berhuruf jawa Tiga S (baca: Sa) yang berbunyi “Sapa Salah Seleh”.
Ungkapan itu merupakan peringatan pada manusia untuk tekun dalam pencarian jalan kebenaran di ruang kemedekaan. Karenanya, melalui upacara tersebut, para insan pers Magelang ingin merefleksikan soal kemerdekaannya saat mengemban tugas mulia untuk kepentingan pembangunan, demokrasi, dan kemanusiaan.”Ketika seorang kawan seprofesi dibunuh dan terkoyak serangan bom molotov, itu jadi sinyal kemerdekaan mereka yang terpayungi Undang-Undang Pers patut direfleksikan,” papar pewarta Kantor Berita Antara ini.Kendati begitu, Hari mengapresiasi kinerja penegak hukum di Kota Magelang yang mengurus bom molotov hingga ke meja pengadilan belakangan ini. Ia yakin penegak hukum mampu menguak ikhwal sesungguhnya, perkara yang pertama kali terjadi Kota Sejuta Bunga ini. Jika tidak, akan menjadi preseden buruk untuk pers di daerah ini pada masa yang akan datang.”Saatnya Pers Magelang mengelaborasikan kerja jurnalistiknya untuk menyuguhkan pemberitaan dengan menggali kepentingan kemuliaan publik. Tidak hanya melalui 5W dan 1H, tetapi juga 3E dan 1N. yaitu, Educating, Enlighting, Empowering, dan Nasionalism,” tegas Hari.(dem/ady/hes)