DUNIA ketoprak sudah mendarah daging bagi kehidupan Ari Purnomo. Terbukti semenjak kecil dirinya dibesarkan dalam keluarga pecinta ketoprak. Pria kelahiran Solo, 13 Agustus 1973 ini besar dalam keluarga penyengkuyung ketoprak Tobong.Frase kehidupan ini tentunya sangat berpengaruh dalam kehidupan Ari. Pria yang saat ini aktif sebagai pengurus Gerakan Seni Taruna Mataram (Genitama) berusaha untuk terus bisa nguri-uri kesenian ini.Ari menuturkan kecintaannya terhadap ketoprak, karena dirinya menggeluti dunia seni pertunjukan tradisional ini sejak kecil. Pengalaman ketopraknya diawali saat masih berumur tiga tahun.
“Seingat saya waktu itu hanya berperan sebagai figuran sliweran. Tapi ini merupakan pengalaman perdana yang menyenangkan. Seluruh keluarga mulai dari kakek, nenek, bapak dan ibu merupakan penggawa ketoprak Tobong,” kenangnya.Besar di dunia ketoprak, membuat Ari sudah memahami kondisi ketoprak di tanah air. Dinamika perubahan ketoprak kerap dia temukan. Dimana perkembangan ini wajib dirasakan oleh ketoprak. Tujuannya agar kesenian tradisional ini tidak mati dan punah. “Kita tidak bisa menutup mata bahwa perubahan ini pasti ada. Juga tidak bisa menolak karena menyangkut keberadaan ketoprak kedepannya. Terpenting tetap mempertahankan estetika dan etika sebagai roh dari ketoprak,” katanya.
Ari menambahkan ketoprak saat ini telah mengalami pergeseran makna. Jika dahulu ketoprak masih dijadikan sebagai mata pencaharian maka saat ini berbeda. Karena sebagai dunia industri, ketoprak harus bersaing dengan hiburan modern.Tentunya untuk takaran saat ini, ketoprak kurang diminati dibandingkan hiburan di layar televisi. Untuk itulah ketoprak, menurutnya, harus berevolusi. Berakulturasi dengan dinamika perubahan pola kehidupan masyarakat. Kesenian ini harus dipertahankan karena merupakan kekayaan tradisi lokal Indonesia dan merupakan salah satu jati diri bangsa Indonesia. “Teringat pesan bapak saya, nek kowe arep urip seko ketoprak, ketoprak kuwi urip-uripana. Pesan ini selalu saya pegang, bahwa sebagai pelaku seni kita harus melihat pemikiran ini,” kenangnya.
Ari berharap kepedulian pelestarian ketoprak dilakoni oleh semua kalangan, terutama generasi senior yang memberikan panutan dan jalan kepada generasi penerus. Baginya sudah tidak zaman lagi persaingan antar generasi dalam kesenian ketoprak.Jika kerenggangan antar generasi masih ada justru akan mematikan ketoprak. Alhasil bukannya berkembang, justru kesenian ini akan mati dengan perlahan. Terbuka terhadap sebuah pemikran baru pun menjadi kunci bertahannya kesenian ini dari gerusan jaman. “Untuk perkembangan selama lima tahun ini sangat menggembirakan. Dimana generasi-generasi muda mulai lahir dengan pemikiran dan konsep yang baru. Tujuan mereka sama yaitu melestarikan dan mempertahankan kesenian warisan nenek moyang ini,” kata Ari. (dwi/ila)