SLEMAN – Satu poin penting dihasilkan dalam upaya islah antara Julius Felicianus dengan Abdul Kholik. Hubungan dua orang saling bertetangga warga Sukoharjo, Ngaglik itu sempat tegang menyusul insiden penyerangan di rumah Julius, yang saat kejadian sidang digunakan untuk ibadah umat Kristiani beberapa waktu lalu.Bupati Sleman Sri Purnomo memfasilitasi kesepakatan damai antara keduanya di kantor bupati akhir pekan lalu. Materi kesepakatan tersebut dituangkan dalam berkas hitam di atas putih yang diteken oleh kedua pihak. Kesepakatan ini juga disaksikan Kapolres AKBP Ihsan Amin dan Komandan Kodim 0732 Letkol Inf Bambang Yudi.
Pertemuan yang dikemas sederhana itu mengedepankan azas kekeluargaan. Tanpa paksaan atau tekanan dari pihak manapun, dengan kesadaran saling berdamai dan memaafkan, serta tidak mempermasalahkan lagi persoalan yang telah berlalu. “Hal penting yang perlu diingat kedua pihak siap hidup berdampingan dan saling menghargai,” pesan Sri Purnomo.Pembicaraan kesepakatan damai itu merupakan tindaklanjut dari pertemuan Forum Kerukunan Umat beragama Umat Beragama (FKUB) dalam mewujudkan situasi aman, nyaman, dan ketenteraman di Kabupaten Sleman. Pertemuan itu dilakukan dengan mengedepankan penyelesaiaan secara musyawarah mufakat yang didasari rasa kekeluargaan serta saling menghormati.
Hanya saja, prosesi islah ini tidak langsung oleh pihak bersangkutan. Masing-masing diwaliki oleh keluarga. Julius diwakili oleh kakaknya, Yohanes Suwalji dan Romo Paroki Gereja Kudus Banteng, Sinduharjo, Ngaglik Aloysius Kriswinarto MSF. Sedangkan, Abdul Kholik yang diwakili Ustad H. Ja’far Umar Thalib, pimpinan Pondok Pesantren IHYA’US SUNNAH, Degolan, Umbulmartani, Ngemplak.Suwalji memamitkan Julius tidak dapat hadir karena sedang ke China. “Sejak kejadian, adik saya sudah memaafkan dan tidak mempermaslahkan,” katanya.Julius juga meminta maaf atas insiden tersebut dan menganggap sebagai musibah. Suwalji berharap, pertemuan di ruang rapat bupati merupakan final atas konflik yang terjadi selama ini.(yog/din)