BANTUL – Aksi solidaritas insan pers terhadap pengungkapan kasus terbunuhnya wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, terus berlanjut. Kemarin (17/8) bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, Forum Pewarta Bantul (FPB) melakukan ziarah di makam Udin di Dusun Gedongan, Trirenggo, Bantul.Agenda yang diikuti belasan pekerja media yang bertugas di Bantul ini dimulai dengan doa bersama. Harapannya, almarhum yang dianiaya pada 13 Agustus 1996 dan meninggal tiga hari kemudian ini mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Juga agar keluarga yang ditinggalkan terus mendapatkan kesabaran, lantaran masih buramnya perkara yang telah memasuki masa kedaluwarsa ini.
Usai doa bersama, FPB sekaligus menobatkan Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional. FPB menegaskan, secara yuridis pengusutan perkara meninggalnya Udin telah memasuki kedaluwarsa. Namun demikian, PWI Cabang Jogja telah mengajukan permohonan kepada presiden agar memberikan perhatian khusus terhadap perkara tersebut. Harapannya kasus yang telah berusia 18 tahun ini segera menemukan titik terang. Seluruh pihak yang terlibat diusut tuntas. Selain itu, pemerintah juga diminta menobatkan Udin sebagai pahlawan pers.Permohonan ini juga sebagai respons atas gagalnya kepolisian mengungkap kasus yang menarik perhatian masyarakat ini. Setidaknya, sudah 17 kapolda DIJ gagal mengungkap perkara yang masih buram ini.
Sementara itu, Ketua FPB Subchan Mustofa mengatakan, Udin telah meninggal 18 tahun lalu. Tetapi semangatnya untuk bersikap kritis dalam setiap pemberitaan harus tetap dijaga.”Ini juga momentum bagi teman-teman wartawan di Indonesia untuk selalu berhati-hati dalam bekerja, tetapi tanpa mengurangi sikap kritis,” pintanya.Penutupan acara ziarah ditandai dengan pembacaan dua puisi karya Wiji Tukul, yaitu Bunga dan Tembok, dan Sajak Suara. Kedua puisi dibacakan Endro Guntoro. (zam/laz)