WONOSARI – Pelayanan rumah sakit masih belum maksimal. Beralasan sesuai prosedur tetap (protap) RSUD Wonosari tidak mau mengantar pasien ke rumah sakit rujukan dengan ambulans rumah sakit umum daerah (RSUD). Kasus ini dialami seorang pasien anak warga Wonosari, Bima Putra Tama, 11. Pada Sabtu (16/8) sekitar pukul 20.30 datang ke IRD (instalasi rawat darurat) RSUD Wonosari untuk berobat. Dokter jaga kemudian melakukan pemeriksaan. Hasilnya, siswa kelas lima SD tersebut dinyatakan mengalami kelainan jantung, harus dirujuk ke RSUP Dr Sardjito Jogjakarta.Keluarga pasien panik dan buru-buru minta disediakan ambulans. Namun, permintaan tersebut ditolak petugas RSUP Wonosari. Alasannya, jika merujuk tanpa konfirmasi dengan RSUP Dr Sardjito akan dimarahi.”Tapi ketika kami minta konfirmasi ke RSUP Dr Sajito by phone, petugas tidak mau. Kata patugas, protapnya seperti itu,” kata keluarga pasien, Aminudin Azis (17/8).
Saat itu, pihaknya sempat beradu argumen dengan petugas. Namun karena terjadi debat kusir, bersama kerabat pasien lainnya langsung mencari ambulans sendiri dan tidak lagi menghiraukan tawaran petugas mencarikan ambulans swasta.”Setelah cari ambulans, sekitar pukul 24.00, Bima dibawa ke RSUP Dr Sardjito. Langsung ditangani dengan baik. Diperiksa tanpa menanyakan rujukan dari mana,” ujarnya.Kabar melegakan. Ternyata, hasil pemeriksaan dan observasi berbeda dengan keterangan RSUD Wonosari sebelumnya. Pasien normal setelah dilakukan pemeriksaan jantung dan direkam ulang di RSUP Dr Sardjito. Bima diperbolehkan pulang. Menumpahkan kekecewaan, Aminudin Azis menggelar aksi keprihatinan kemarin. Ambulans yang terparkir di RSUD Wonosari ditempeli poster. Salah satu tulisannya berbunyi, ‘rumah sakit tidak ramah anak’. Selain itu ambulans yang terparkir juga ditempeli poster ‘ambulans tidak berfungsi dan tidak berguna’. “Pemerintah harus menegur pihak rumah sakit. Kalau perlu diganti direkturnya,” kata Aminudin.Direktur RSUD Wonosari Isti Indiyani mengatakan protap rujukan ke Sardjito memang harus memastikan ketersediaan kamar dahulu. Jika merujuk tanpa konfirmasi, RSUD bisa disalahkan keluarga pasien. “Aturannya memang seperti itu,” ujarnya. Dia menjelaskan, untuk sopir ambulans, rumah sakit menerapkan sistem shift. Siang hari disediakan dua orang sopir, sore dan malam hari satu sopir. Dia menduga, saat pasien atas nama Bima harus dirujuk, sopir piket sedang merujuk pasien lain. (gun/iwa)