CINTA tanah air dapat terwujud dalam berbagai tindakan. Bagi Wury Ayu Ambarwati cinta tanah air memiliki arti penting. Baginya sebagai generasi penerus bangsa tentunya wajib mempunyai sikap ini.Wujud pengabadiannya ditunjukkan dengan aktif dalam kegiatan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Indonesia. Perempuan yang akrab dipanggil Tiwa ini bercerita bahwa Paskibraka adalah kehidupan yang menarik. Selain melatih mental, disiplin dan tanggung jawab, Paskibraka melahirkan pula jiwa kekeluargaan. Hal ini ditemuinya saat aktif sebagai Paskibraka Kota Jogja tahun 2008 hingga Purna Paskibraka Indonesia (PPI) saat ini. “Ada yang menilai bahwa dunia Paskibraka adalah dunia yang menjemukan. Padahal tidak sama sekali jika mau total. Memiliki makna lebih karena meneruskan semangat juang para pejuang kita dahulu,” katanya saat ditemui di Istana Kepresidenan Gedung Agung Jogjakarta kemarin (16/8).
Kilas balik perempuan kelahiran Jogjakarta, 3 September 1992 di dunia Paskibraka ini terbilang cemerlang. Berawal pada tahun 2008 saat dirinya mewakili SMAN 4 Jogja menjadi Paskibraka Kota Jogja. Waktu itu dirinya tugas sebagai pembawa baki Pasukan 8.Bertugas sebagai pembawa baki, baginya merupakan sangat yang membanggakan. Di sisi lain tugas ini juga mampu membuat senam jantung sulung tiga bersaudara ini. Tugasnya adalah membawa bendera dari inspektur upacara kepada petugas pengibar bendera. “Waktu itu tugas pembawa baki pagi di Balai Kota Jogja. Tentunya ada rasa bangga yang bercampur dengan rasa deg-degan. Tapi rasa bangga lebih besar karena terpilih dari ratusan siswa SMA di Kota Jogja,” katanya.
Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) ini selanjutnya aktif dalam PPI. Memasuki tahun 2010, Tiwa intens mengikuti segala kegiatan PPI. Salah satunya melatih adik-adik angkatannya di Paskibraka.Seperti saat ini dirinya menjadi Koordinator Pembawa Baki Paskibraka DIJ 2014. Tugasnya tentu saja mendampingi dan melatih pembawa baki dalam upacara Proklamasi Kemerdekaan RI ke-69. Segala pengalamannya selama bertugas pun diturunkan kepada adik-adik angkatannya ini.Baginya aktif dalam dunia Paskibraka sudah menjadi panggilan jiwa. Meski terbilang sibuk dengan jadwal kuliah, dirinya menyempatkan waktu untuk Paskibraka. Terlebih bergabung dalam PPI membuat pengalamannya ikut bertambah.
“Dulu kita, para Paskibraka, berada di posisi yang sama. Saatnya kita berbakti menjadi PPI dan melatih generasi Paskibraka di DIJ. Banyak pengalaman yang didapat dalam kesempatan ini, seperti protokoler kenegaraan contohnya,” kata Tiwa.Melalui Paskibraka dan PPI, Tiwa mengajak para generasi muda untuk lebih cinta tanah air. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenal diri sendiri sebelum menilai orang lain. Wujud-wujud simpel seperti menjaga karakter dan budaya bangsa juga menjadi poin penting.Bentuk penghargaan dan cinta terhadap Indonesia juga bisa dilakukan dengan menghargai simbol negara. Memperlakukan bendera Merah Putih dengan baik adalah wujud konkretnya. Dirinya mengaku sempat miris ketika ada yang memperlakukan simbol negara ini dengan tidak semestinya. “Simbol negara adalah sebuah perwakilan sebuah bangsa yang besar dan disegani. Tentunya miris apabila ada yang memasang atau memperlakukan bendera dengan seenaknya sendiri. Ini sebenarnya sederhana tapi penting untuk dipahami,” katanya. (dwi/ila)