SEMENTARA ITU, Pementasan ketoprak kolosal eksperimental diadakan di hari kedua Minggu (10/8). Pada pementasan eksperimental ini penonton yang hadir juga berjubel. Bedanya kali ini ketoprak hadir dengan nuansa yang berbeda. Dimana mengusung dan mengadaptasi teknik serta teknologi baru.Masih menggarap naskah Sumunaring Surya in Gagat Rahina karya SH Mintardja tapi dengan versi yang berbeda. Bertajuk Lingsir, lakon ini digarap oleh Ari Purnomo, RM. Altiyanto Hermawan, Anter Asmaratedja, Herwiyanto, Gondol Sumargiyono, dan Herry Limboex.
Altiyanto mewakili eksperimental mengaku sangat tertantang. Terlebih dengan menghadirkan suasana dan rasa baru dalam kesenian ketoprak. Untuk lebih mewarnai, Altiyanto dan timnya mengusung tim tari, tata cahaya, busana hingga efek digitalisasi. “Tantangan untuk mengikuti dinamika perkembangan zaman, dimana ketoprak juga harus bergerak. Meski begitu tidak meninggalkan estetika dan etika dari ketoprak itu,” katanya.Meski format dan konsep pementasan berubah namun kedua nilai ini tetap dipertahankan. Karena kedua nilai ini merupakan bentuk kearifan dan nyawa dari ketoprak. Dimana pesan-pesan moral, unggah-ungguh dan norma tetap bertahan.Tujuannya agar penonton tidak hanya menikmati sebuah hiburan semata. Namun di sisi lain juga mendapatkan tuntunan dan tatanan dalam sebuah pertunjukan. Inilah yang tetap dikawal oleh Altiyanto bersama timnya. “Inilah roh dari sebuah kesenian ketoprak yang wajib kita pegang. Tentunya pengemasan yang baru diperlukan untuk menggandeng dan menghadirkan nilai-nilai ini,” kata Altiyanto.
Dalam karya eksperimental, naskah milik SH Mintardja ini diadaptasi ulang oleh Surya Anantya. Perbedaan mencolok tersaji dalam gaya eksperimental ini. Dimana ketoprak sudah mengusung gaya modern. Bahkan pementasan ini lebih mirip sebuah pementasan teater modern.Semakin lengkap tatkala sejumlah kemajuan teknologi diusung dalam ketoprak ini. Sebut saja kostum, sampling musik, hingga tata cahaya yang dibuat dengan gaya berbeda. Adegan para penghuni kahyanagan terbukti mampu mencuri perhatian.Meski hadir sebagai sosok yang didewakan, namun kostum diusung dengan gaya modern. Kostum ini terlihat lebih futuristik bagi sebuah pertunjukan ketoprak. Meski begitu pembaruan ini mampu menjadi penyegar bagi kemajuan ketoprak. “Menjadi tantangan bagi kita untuk melestarikan kesenian ketoprak. Kemasan eksperimental ini hadir untuk menghapus mitos punahnya ketoprak. Tentunya ketoprak harus terus bergerak mengikuti dinamika perkembangan masyarakat,” kata Altiyanto. (dwi/ila)