WONOSARI – Cuaca buruk pantai selatan Gunungkidul tak menghalangi ‘manusial laut’ untuk memperingati hari kemerdekaan ke-69. Sejak pagi hari, di tengah deburan ombak, sejumlah orang bersiap menuju Samudra Hindia guna melangsungkan upacara bendera kemarin (17/8).Upacara bendera di tengah laut kawasan Pantai Baron, Kemadang, Kecamatan Tanjungsari ini diikuti ratusan peserta. Terdiri atas anggota SAR, relawan dan petugas, serta pengibar bendera dari SMK Tanjungsari. Acara dimulai sekitar pukul 10.00.
Diawali dengan upacara di bibir pantai dengan kemeriahan drumb band, kemudian memasuki detik-detik pengibaran bendera, peserta mulai menyiapkan diri. Puluhan orang, terdiri atas 55 anggota SAR, 40 relawan dan petugas, pengibar bendera sebanyak 30 dari SMK Tanjungsari pun berkemas. Menggunakan peralatan lengkap, sejurus kemudian mereka berenang ke lokasi pengibaran bendera. Jaraknya kurang lebih 100 meter dari tepian. Demi keamanan bersama, sejumlah kapal dan jet ski disiagakan. Setelah sukses mengibarkan bendera kebangsaan, peserta upacara kembali ke daratan dengan penuh senyum kemenangan.
Koordinator SAR Baron Gunungkidul Marjono mengatakan, pelaksanaan upacara di tengah laut kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika setahun lalu tiang bendera di pasang sekitar 500 meter dari bibir pantai, sekarang hanya 100 meter saja. “Untuk keamanan saja, karena angin belum bersahabat,” kata Marjono usai merampungkan upacara dengan sukses.Dia menjelaskan, diadakannya upacara di tengah laut jelas memiliki tujuan. Pihaknya ingin mengingatkan kepada generasi sekarang agar jangan sampai lupa dengan pejuang yang gugur di medan pertempuran, khususnya pahlawan angkatan laut.
“Jika dulu pahlawan berjuang mempertahankan setiap inci perbatasan laut, sekarang kita juga harus demikian,” tegasnya.Sementara salah seorang pengibar bendera Kiswanto, mengaku bangga bisa ikut terlibat dalam upacara ekstrim. Anggota tim SAR Pantai Baron tersebut ingin berbagi pengalaman dengan semua pihak bagaimaa upacara di Samudra Hindia. “Saat mengibarkan bendera, kami harus melawan angin dan ombak. Namun dengan semangat, kesulitan demi kesulitan bisa diatasi,” kata Kiswanto.Hal senada juga diungkapkan peserta upacara dari relawan mahasiwa sekolah tinggi di Jogjakarta, Shinta Dewanti, 19. Meski tidak lihai berenang, dia bertekat ingin mengikuti upacara pitulasan tidak di daratan. Keinginannya terkabul. Dengan peralatan lengkap dan bantuan dari teman, Shinta berhasil menaklukkan deburan ombak. “Saya bangga mengikuti upacara ini,” ucapnya. (gun/laz)