GEGAP gempita hari kemerdekaan begitu terasa. Malam tirakatan seolah menjadi moment untuk kilas balik mengingat perjuangan para pahlawan di masa lalu. Itu pula yang dirasakan oleh Somo Admojo atau akrab disapa Mbah Somo.Dirinya bisa dibilang sebagai saksi hidup bagaimana kemerdekaan Indonesia direbut. Bahkan dirinya juga sempat menyaksikan peperangan yang terjadi di masa lalu. Salah satunya, peristiwa SO 1 Maret 1949 yang bertujuan menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa eksistensi Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih ada. Saat itu, serangan umum yang terjadi di Kota Jogja menjadi catatan tersendiri bagi sejarah bangsa Indonesia.
“Saat terjadi serangan umum, masyarakat biasa lebih memilih meninggalkan Jogja. Mereka takut dengan apa yang sedang terjadi,” kata Mbah Somo ditemui di rumahnya yang berada di Jeruklegi Rt 12 Rw 35 Banguntapan, Bantul kemarin (16/8).Kakek yang kini berusia 89 tahun itu menambahkan ada sepenggal cerita dari kawan-kawannya yang terlibat dalam serangan umum kala itu. Dimana pasukan Indonesia memiliki tempat persembunyian di daerah Tamansari. Hal yang menarik, menurutnya, ketika Belanda tidak berani memasuki wilayah Keraton Jogja. “Sekarang kawan-kawan yang ikut berjuang dalam serangan umum, kebanyakan sudah gugur,” ungkap Mbah Somo.
Ia mengisahkan, masa memperjuangkan kemerdekaan yang terjadi di Jogjakarta sangat dahsyat. TNI bersama masyarakat sipil memiliki semangat juang yang tinggi. Selain itu, mereka memiliki strategi jitu untuk mengusir penjajah di bumi Mataram ini.Meksi tak banyak dikisahkan olehnya, namun dengan peristiwa itu, ia memahami betul betapa berkobar semangat rakyat Jogja demi memperjuangkan kemerdekaannya. “Saya memang tidak banyak terlibat. Namun dari persitiwa itu, betapa tingginya semangat rakyat Jogja mempertahankan keutuhan NKRI,” tegasnya. (fid/ila)