MUNGKID – Peringatan HUT ke-69 Kemerdekaan RI dilakukan berbagai elemen masyarakat. Tidak terkecuali para santri Pondok Pesantren Miftahurrohmah dari Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur. Mereka naik Bukit Menoreh yang berjarak 1,5 kilometer dari Candi Borobudur untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Selain memperingati HUT RI, pada momen tersebut, para santri juga menyuarakankeprihatinannya pada kelompok radikal Islam atau ISIS yang berkembang di Indonesia.Bagi para santri, peringatan HUT kemerdekaan kali ini dilaksanakan dengan perjuangan yang berat. Mereka naik bukit terjal di Bukit Pegunungan Menoreh. Di mana bukit tersebut tempat perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda.Untuk itu, sebelumnya mereka melakukan persiapan khusus dan tidak semua santri bisa bergabung.
Upacara di atas bukit tersebut hanya mengikutsertakan 55 santri dari santri SMP dan Aliyah Pesantren Miftahurrohmah. Alasannya untuk menjaga keselamatan dan dipilih yang benar-benar kuat. Saat upacara, mereka didampingi para ustad dan guru.Menariknya, peringatan HUT tersebut ada Sembilan santri dengan pakaian ala para wali sanga zaman dahulu. Ada yang berpakaian ala Sunan Ampel dengan janggut putih dan sorban, meniru Sunan Giri dengan membawa sapi, dan Sunan Kalijaga dengan pakaian beskab blangkon sorjan dan membawa wayang sembari dimainkan. Ada juga santri anak asuh dari KH Abdul Khafid yang berpakaian ala Sunan Maulana Malik Ibrahin dengan bakul dagangan, Sunan Bonang dengan membawa alat musik Bonang, dan lainnya.Saat detik-detik proklamasi, para santri mengikuti dengan khidmat. Santri yang lain juga membawa rebana untuk meramaikan suasana. Jarak menuju puncak bukit sebenarnya sekitar 2,5 km. namun, mereka harus melalui tebing dan jurang agar sampai Puncak Menoreh. Saat melalui medan yang berat, mereka mengibaratkan sebagai beban berat seperti yang dirasakan para pejuang zaman dahulu dalam membela tanah air.
Kepala SMP IT Miftahurrohmah Yudika Romadhon SPdI menyatakan, di tengah hiruk-pikuk bahagia ulang tahun kemerdekaan RI tahun ini, di hati umat Islam Indonesia ada rasa prihatin. Yaitu, gencarnya beritadi media cetak dan elektronik soal aliran radikal ISIS (Islamic State Iraq Syria) yang perpusat di Timur Tengah. Menurutnya, sangat ironis jika Muslim di Indonesiameniru gerakan tersebut.Dikatakan, munculnya ISIS di Indonesia ini menodai sejarahkecerdasan para pionir mubaligh Islam berjihad mengislamkan Nusantara ini. Para ulama berhasil menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara penduduk Islam terbesar di dunia tanpa mengumandangkan genderang perang. “Kecerdasan para wali sangat terlihat jelas. Semaraknya Islam di nusantara bukan melalui pertumpahan darah. Tetapikearifan budaya lokal yang dimanfaatkan para wali yang berhasil menaklukkan Majapahit yang luas wilayahnya tidak kalah dengan Eropa dan Jazirah Arab,” tegasnya kemarin (17/8). Ia meneruskan, Sunan Kalijaga berjuang menggunakan wayang kulit. Sunan Kudus menggunakan sapi,dan Sunan Bonang mengunakan gamelan Jawa berwujud bonang dan ketipung. Juga sunan-sunan lain juga menggunakan budaya yang ada dalam berjihad. Dengan perjuangan tersebut, akhirnya Nusantara yang semula mayoritas penduduk beragama Hindu dan Buddha, di mana Majapahit dengan armada perang terbesar dan wilayah terluas di Asia Tenggara, berubah menjadi negara mayoritas beragama Islam terbesar. “Sekali lagi bukan melalui kontak senjata, perjuangan para waliyullah membuahkan kesuksesan. Tetapi dengan taktik dan strategi yang jitu, serta kecerdasan yang berhasil mengislamkan nusantara,” ungkap pria yang juga sebagai ustad dengan penuh semangat.
Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahurrohmah Drs KH Abdul Hafidz MPdI berpesan, umat Islam harus kembali pada sejarah umat Islam di Indonesia yang lebih cerdas dalam berjihad. Dalam teori perang,Islam bisa menang tanpa peperangan. Karena tidak pernah terjadi peperangan antara umat Islam melawan Hindhu dan Buddha.Padahal, bisa dilihat ribuan candi yang ada di Indonesia ini sebagai bukti kebesaran negara Majapahit dengan pemeluk Hindhu dan Buddha saat itu. Semua itu, ternyatabisa berubah tanpa peperangan. “Apa guna bom dan senjata AK kebanggaan jamaah kelompokradikal ISIS, ternyata tidak bisa mengalahkan musuh. Sekarang, semua harusnya merasa malu pada pendahulu kita, yaitu wali sanga. Mereka terbukti lebih cerdasdalam berjihad,” katanya.(ady/hes)