WONOSARI – Wayang Orang (WO) Panca Budaya kembali hadir dengan lakon yang berbeda. Bertempat di Pendapa Balai Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul belum lama ini (12/8), membawakan lakon Bel Geduwel Bleh Petruk Dadi Ratu.Kelompok wayang orang yang anggotanya terdiri dari seniman lintas kabupaten dan kota di DIJ ini tampil memukau. Sutradara Pementasan Tukiran mengungkapkan lakon ini memiliki nilai filosofi tinggi. Meski terlihat sederhana, tapi mengandung makna sangat dalam. Menurutnya lakon ini mencoba memberi teladan tentang orang yang mendapat amanah. “Seperti yang dilakukan Petruk yang menyamar menjadi raja. Samaran ini dilakoni agar amanat tersebut benar-benar aman dan tidak ternodai hingga dikembalikan kepada yang berhak,” kata Tukiran.
Lakon ini becerita tentang amanah Jamus Kalimasada yang dibawa oleh Petruk. Dimana benar-benar tidak akan diserahkan kepada siapapun. Bahkan saat petinggi seperti Prabu Baladewa maupun Prabu Kresna yang meminta. “Karena yang berhak menerima kembali amanah ini adalah Prabu Yudistira, maka Jamus Kalimasada hanya dikembalikan dan serahkan pada Prabu Yudistira,” kata Tukiran.Dalam frase ini Tukiran juga menghadirkan kesadaran seorang rakyat jelata. Dimana Petruk sebagai simbol dari rakyat yang sadar akan kedudukannya hanyalah memegang amanah sementara. “Sebab yang berhak dan berkewajiban diberi amanah adalah orang yang benar-benar dipercaya oleh rakyat,” terangnya.
Cerita diawali saat Petruk yang diperankan Teguh Edi Martono dipercaya Priyambodo, anak Arjuna yang diperankan oleh Samiaji. Petruk harus mengamankan Jamus Kalimasada yang akan dicuri Mustokoweni yang diperankan oleh Rini Widyastuti. Ambisi ini karena Jamus Kalimasada adalah pusaka utama Kerajaan Amarta.Dalam perjalanan menuju Amarta dan menemui Prabu Yudistira diperankan Rahmat Santosa, Petruk justru kesasar. Langkahnya berakhir di Kerajaan Ngrancang Kencana milik Prabu Jaya Setika. Keisengan Petruk muncul dan meminta menjadi raja, tentunya hal ini memancing kemarahan raja yang diperankan oleh Widodo Kusnantyo. “Perkelahian pun terjadi tapi Prabu Jaya Setika beserta patih, prajurit serta sentana Ngrancang Kencana bisa dikalahkan oleh Petruk. Sebagai punakawan yang konyol, Petruk mengubah nama kerajaan Ngrancang Kencana menjadi Kraton Loji Tengara dan menggunakan gelar Prabu Bel Geduwel Beh,” kata Tukiran. Perkelahian ini merembet hingga menyeret Prabu Kresna, Prabu Baladewa, Gatotkaca, Antareja dan para Pandawa. Alhasil perkelahian ini tetap dimenangkan oleh Bel Geduwel Beh. Mengatasi ini, Prabu Kresna mengutus Bagong dan Gareng melawan Bel Geduwel Beh. Singkat cerita, Bel Geduwel Beh kalah oleh Bagong dan Gareng sehingga kembali kewujud semula, yaitu Petruk. “Akhirnya Petruk mengembalikan amanah yang diberikan kepadanya. Petruk pun kembali menjadi rakyat yang mengabdi pada Pandawa,” kata Tukiran. (dwi/ila)