JOGJA – Rencana PT.Pertamina menaikkan harga jual gas elpiji ukuran 12 kilogram, tak membuat gusar Pemerintah Kota Jogja. Bahkan hingga saat ini belum ada rencana untuk mengajukan penambahan kuota gas elpiji ukuran tiga kilogram, sebagai imbas kenaikan elpiji 12 kilogram.Hal itu juga berdasarkan pertimbangan prediksi, tidak akan terjadi migrasi secara signifikan dari pengguna gas 12 kg beralih mengonsumsi “gas melon”.Asumsi tersebut dipengaruhi oleh hasil komunikasi dengan Pemprov DIJ, bahwa pasokan di masing-masing daerah di DIJ diklaim masih aman. “Belum sampai mengajukan (kuota) penambahan, tapi akan kami pantau terus kondisi di pasar,” ujar Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogjak Suyana kemarin (16/8).
Menurut Suyana, salah satu pertimbangan tidak perlunya pengajuan penambahan kuota “gas melon”, juga didasari konsumen gas 12 kilogram adalah dunia industri atau usaha, serta masyarakat kelas ekonomi menengah keatas. Jika pun terjadi migrasi ke gas 3 kg, dipastikan jumlahnya juga tidak signifikan. “Tapi kalau memang jadi naik, pengawasan di lapangan akan ditingkatkan,” tuturnya.Untuk kemungkinan pengajuan penambahan kuota gas 3 kg juga baru akan dilakukan ketika terjadi lonjakan permintaan di tengah-tengah masyarakat. Saat ini, kuota gas tiga kilogram di Kota Jogja per harinya mencapai 17.300 tabung. Sedangkan di DIJ jumlahnya mencapai 78 ribu tabung per hari. Jumlah tersebut diyakini masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
Hal yang sama dikatakan Ketua Hiswana Migas Jogja Siswanto. Menurutnya, tidak ada alasan untuk khawatir akan terjadi migrasi, jika benar harga gas ukuran 12 kg jadi dinaikkan. Dirinya malah memperkirakan, jika benar gas 12 kg akan dinaikkan, yang akan berpengaruh justru produk baru dari Pertamina, bright gas. “Kalau benar naik, saya rasa migrasinya ke bright gas, bukan ke gas melon,” katanya.Dijelaskan, sama-sama gas non subsidi dan dengan ukuran yang sama, bright gas diklaim memiliki keunggulan. Bright gas memiliki karet pelindung benturan, double spindle, seal cap, dan bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu, penggunaan bright gas diklaim lebih hemat dibandingkan tabung gas lainnya. Harga jual bright gas juga sudah dipatoktidak boleh lebih dari Rp115 ribu per tabung. Sementara jika harga gas 12 kg jadi naik, diperkirakan akan menjadi Rp120 ribu per tabung di agen, sementara di tingkat eceran harganya bisa mencapai Rp 145 ribu. “Orang akan pindah ke bright gas,” terangnya. (pra)