JOGJA – Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia (BI) secara resmi menerbitkan pecahan uang Rp 100 ribu pada 17 Agustus. Di DIJ, masyarakat sudah bisa mendapatkan uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ, ATM dan sejumlah bank di Jogjakarta. “Kami tidak menyiapkan dalam jumlah tertentu uang NKRI. Jumlah uang yang kami siapkan sesuai dengan kebutuhan. Ketika masyarakat membutuhkan Rp 10 miliar maka kami akan siapkan dalam jumlah yang sama,” jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santoso kepada wartawan saat mengenalkan uang NKRI di KPBI DIJ Senin (18/8).
Arief menjelaskan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan atas keberadaan uang NKRI ini. Sebab dengan kehadiran uang baru ini, uang emisi 2004 masih tetap berlaku dan dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. BI sendiri tidak memberikan target khusus terkait penukaran uang. Menurut Arief penukaran uang jenis lama dengan uang NKRI dibiarkan terjadi secara alami. Sedangkan saat disinggung tidak adanya perbedaan yang mencolok antara kedua pecahan tersebut, Arief menjelaskan, hal tersebut dilakukan supaya tidak membingungkan masyarakat. “Bila perubahan dilakukan secara total dikhawatirkan masyarkat akan bertanya-tanya,” jelasnya.Secara kasat mata tidak ada yang terlalu mencolok antara uang terbitan tahun 2014 dengan uang terbitan tahun 2004 tersebut. Secara fisik ada delapan komponen utama yang membedakan pecahan uang terbesar tersebut. Beberapa perbedaan yang mencolok diantaranya pada uang Rp 100 ribu baru terdapat frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia” di atas tulisan “Seratus Ribu Rupiah”. Frasa tersebut menggantikan frasa Bank Indonesia.
Perbedaan selanjutnya adalah penandatanganan uang. Bila pada uang sebelumnya ditandatangani oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia, maka pada uang baru ditandatangani oleh Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan. “Ada juga perubahan gelar dari Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dituliskan dengan menambahkan gelar honoris causa (HC),” terangnya. Pada uang baru, jelas Arief, juga terdapat penambahan blok warna kuning dari yang sebelumnya warna merah. Sedangkan untuk nomor seri, untuk pecahan baru berwarna hitam sedangkan yang sebelumnya berwarna merah. Perubahan juga dilakukan pada lokasi tahun emisi dan tahun cetak. Serta perubahan ukuran huruf pada frasa Bank Indonesia.Arief mengatakan penerbitan uang NKRI ini mengacu pada UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Meski ada perubahan dari segi fisik, untuk pengamanan keuangan sendiri masih sama dari uang terbitan sebelumnya. “Untuk pengamanan masih sama tidak ada perubahan seperti adanya benang emas dan lain-lain,” terangnya. (bhn/ila)