JOGJA – PSIM Jogja nyaris saja kalah WO saat menjamu PSS Sleman jika saja Ketua Umum (Ketum) PSIM Haryadi Suyuti dan jajaran direksi PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) gagal memenuhi tuntutan pembayaran gaji yang dilakukan pemain. Beruntung setelah manajemen melakukan rapat marathon, Topas Pamungkas dkk bisa menerima haknya. Sayang, karena keterbatasan dana, manajemen PSIM baru bisa membayarkan gaji pemain bulan Juli saja. Untuk Agustus, Direktur Operasional PT PIM Jarot Sri Kastawa mengatakan pihaknya masih mengusahakannya.
Bahkan kalau bisa sebelum menghadapi Persinga Ngawi Sabtu (24/8) mendatang gaji sekaligus bonus imbang tandang lawan PSBK Blitar sudah terbayarkan. “Kami berharap para pemain bisa sedikit bersabar,” jelas pria yang hobi memelihara lovebird dan kenari ini. Beruntung meskipun dicicil para pemain PSIM bisa menerimanya. Mereka tetap meladeni PSS Sleman guna menjaga asa lolos ke babak 16 besar. Dalam laga ini pun PSIM sedikit lebih mampu menguasai permainan.
Hasilnya, Laskar Mataram sukses menahan imbang Super Elang Jawa (Super Elja) 2-2. Padahal mereka sempat tertinggal 0-2 lewat gol Guy Junior dan Mudah Yulianto. Usai tertinggal dua gol pemain PSIM bisa menunjukkan reaksi positif. Ya, PSIM sukses menyamakan kedudukan lewat gol indah Eko Budi Santoso dan Tony Yuliandri. “Tentunya kami sangat bersyukur sebagian hak kami sudah dibayarkan manajemen. Karena itulah kami membatalkan aksi mogok. Setelah kejadian itu kami dapat bermain baik walaupun gagal mengemas tiga angka,” terang Topas di Wisma Soeratin Sosrosoegondo.
Namun kata Topas ancaman mogok tidak berhenti sampai di sini. Ya, para pemain ternyata masih menuntut gaji Agustus dibayarkan dengan segera. Jika sebelum laga lawan Persinga bayaran Agustus tidak dilunasi, pemain hampir pasti tidak akan turun kontra Laskar Alas Ketonggo-julukan Persinga. “Memang saya dan kawan-kawan masih ingin lolos ke 16 besar namun hak-hak kami harus dipenuhi dengan segera,” serunya. Menanggapi hal ini pelatih Seto Nurdiyantara kembali menyatakan main atau tidaknya PSIM lawan Persinga sepenuhnya berada di tangan pemain. Sebab percuma saja jika dia menghalang-halangi namun niat pemain mogok ternyata sangat kuat.
Untuk itulah dia berharap manajemen bisa memenuhi tuntutan pemain sebelum pertandingan lawan Persinga. Sebab, kekalahan WO tentu disayangkan mengingat PSIM masih memiliki peluang lolos ke babak 16 besar. “Tentunya tidak ada yang ingin perjalanan gemilang kami terhenti dengan cara menyakitkan. Saya berharap hak pemain terpenuhi sehingga kami bisa meladeni Persinga,” tegasnya. (nes/din)