JOGJA – Jogjakarta menjadi salah satu tujuan investasi properti di Indonesia. Namun keterbatasan lahan membuat para pengembang mulai memikirkan pengembangan rumah susun (vertical housing). Hanya saja bagi pengembang kecil belum semuanya mengetahui manajemen vertical housing tersebut.Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) DIJ Remigius Edy Waluyo mengaku mayoritas anggota REI yang merupakan pengembang kecil tersebut belum memahami secara utuh manajemen building serta kebijakan mengenai vertical housing. “Para anggota REI DIJ jangan sampai menjadi penonton di rumah sendiri. Sementara yang banyak berperan justru pengembang-pengembang dari luar. Pelatihan terhadap manajemen dan kebijakan rumah susun harus didapatkan para pengembang,” jelas Remigius ditemui Selasa (19/8).
Menurut Remigius vertical housing sendiri memiliki permasalahan yang cukup kompleks, dimulai dari sebelum pembangunan maupun setelah proses pembangunan selesai. Misalnya, karena pengembangan bangunan ke atas, sehingga ketinggian bangunan harus menjadi perhatian. Biasanya kebijakan ketinggian bangunan sudah diatur dalam peraturan daerah. “Untuk kota Jogja sendiri maksimal 32 meter hal ini terkait keberadaan bandara dan lalu lintas penerbangan di Jogjakarta,” jelas Remigius.Kompleksitas lain yang ada, jelasnya, terkait pemisahan antara kepemilikan pribadi dan bersama. Bila hal tersebut tidak dimanajemen dengan baik, dikemudian hari bisa menjadi masalah. Di DIJ sendiri terutama Jogja dan Sleman, pengembangan vertical housing menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pemukiman. Apalagi jumlah penduduk dan kepadatan yang ada di Jogja sudah dapat dijadikan acuan untuk pengembangan vertical housing. “Karena keterbatasan luas lahan mau tidak mau diperlakukan vertical housing. Baik yang bersifat sewa maupun kepemilikan pribadi. Namun untuk sewa sudah menjadi ranah dari pemerintah melalui Kemenpera. Untuk pribadi baru ada di ranah swasta,” jelasnya.Menurut Remigius vertical housing juga berguna menyiasati harga tanah yang semakin melonjak. Sebab pada prinsipnya semakin tinggi bangunan maka akan semakin murah. Sedangkan keuntungannya, jelasnya, vertical housing dapat mengurangi kemacetan yang ada di Jogjakarta karena biasanya dibangun di dekat tempat kerja dan pusat perbelanjaan. “Keberadaan vertical housing juga bisa sebagai penghematan terhadap bahan bakar minyak (BBM) karena meminimalisasi penggunaan kendaraan ke tempat aktivitas,” terangnya. (bhn/ila)