MESKI hanya berlangsung sehari, sarasehan bertajuk “Membangun Ketahanan Keluarga: Perspektif Islam dan Psikologi” banyak dimaknahi sebagai media yang lebih untuk mengurai masalah perceraian di Gunungkidul. Isi sarasehan tidak terputus, sehingga mudah dicerna. Kehadiran narasumber KH Husain Muhammad yang merupakan lulusan Al – Azhar, Kairo, membuat kualitas sarasehan menjadi lebih. Dalam menyampaikan materi, Husain menceritakan tentang wasiat Rosulullah sebelum wafat. Menurutnya, Rosulullah berpesan agar memperhatikan salat dan memperlakukan perempuan dengan baik. Wasiat itu disampaikan Nabi Muhammad SAW dengan kalimat terputus-putus. “Aku (Muhammad) berpesan pada kalian untuk memperlakukan perempuan dan istri-istri dengan baik, karena kalian mengambil mereka dengan izin Allah, dan Allah menyaksikan”.
Menurut Husain, kisah tersebut mengandung pesanbaik. Karena memang tradisi yang berkembang dalam masyarakat, masih memperlakukan perempuan sebagai objek, padahal Rasulullah dan Islam tidak mengizinkan itu.Faktanya, Indonesia menjadi peringkat ke 3 tertinggi tingkat perceraiannya. Sekitar 2 juta pasangan menikah setiap tahun, dan 2000 pasangan bercerai setiap tahun. Di antara kasus perceraian meningkat cerai gugat 60 % persen dibanding cerai talak. “Ini ada apa? Mengapa banyak perempuan yang ingin bercerai,” kata Husain bernada tanya. Ternyata, fakta perceraian diawali dengan beragam masalah. Di antara pasangan itu memilih cara pahit cerai untuk melepas rasa pahit dari kekerasan. Ya, KDRT juga menjadi salah satu pemicu perceraian.
Husain kemudian mengeksplorasi pandangan para ulama tentang tiga hal penting kalam perkawinan. Sakinah berasal dari sakanah menetap tinggal tenteram dari rasa takut, mawadah berarti cinta almahabah saling cinta menasihati komunikasi saling menyenangkan, dan warahmah kasih lembut kebaikan dan ketulusan.”Allah mengharapkan agar kalian saling cinta, menyayangi, menghargai. Lebih dalam lagi, menghargai tidak menggunkan otoritas dengan semau-maunya. Ada banyak sekali orang menganggap istri lebih rendah dari pada suami. Padahal istri merupakan potensi yang sangat besar dalam kehidupan,” bebernya.
Intinya, menghormati perempuan merupakan salah satu cara agar keluarga harmonis tetap bisa terjaga dengan baik. Rosulullah tidak mengajarkan kekerasan dalam keluarga. Nabi mengingatkan agar jangan pernah memukul perempuan, karena laki-laki yang baik tidak memukul istri-istrinya dalam bentuk kekerasan apapun. “Rosul tidak pernah memukul istri maupaun perempuan, maka keharmonisan dalam keluarga menjadi penting sekali untuk bisa dipertahankan,” ungkapnya. Memasuki sesi tanya jawab, salah seorang peserta, menanyakan hadis populer “apabila istri menolak ajakan suami berhubungan intim, maka dilaknat malaikat sampai pagi”. Mendengar pertanyaan itu, Husain tersenyum.”Saya heran kenapa laknatnya sampai pagi? Sebenrnya makna laknat di situ adalah dijauhkan dari ketiadaan kasih. Jika kecewa, maka situasinya tidak mengandung kasih. Jadi, tidak seperti yang dibayangkan laknat yang kejam,” ujarnya. (jko/selesai)