MINGGU (17/8) tidak hanya menjadi hari bersejarah bagi seluruh warga Indonesia. Hari itu juga menjadi hari tak terlupakan bagi seorang Djaduk Ferianto. Anak dari almarhum maestro seni Bagong Kussudiarja ini menggelor konser special. Konser ini bertajuk Gending Djaduk, 50 Tahun Djaduk Ferianto.Antusiasme penonton menyaksikan konser khusus ini memang tidak terbendung. Terbukti dari tiket yang disediakan semuanya telah sold out. Hal ini juga terjadi saat Djaduk menggelar konser yang sama di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki 13 Agustus lalu.”Terima kasih untuk kehadirannya di TBY malam ini. Terima kasih untuk yang sudah bayar, dan terima kasih jika ada yang bludus tidak membayar,” sapa Djaduk disambut tawa para penonton.Konser kali ini terasa istimewa karena Djaduk sendiri sangat jarang menggelar konser di Jogja. Bersama Kua Etnika, dirinya membawakan sebelas repertoar musik bernuansa jazz. Aksi semakin lengkap dengan interaksi dan komunikasi yang dibangun Djaduk bersama Kua Etnika.Tanpa basa-basi, penonton yang hadir malam itu dihajar oleh repertoar berjudul Piknik ke Cibulan. Alunan music jazz terasa kental dalam musik. Semakin apik taktala Djaduk memainkan seruling khas Sunda, Jawa Barat.
Alunan musik ini ibaratkan musik jazz logat sunda. Djaduk menceritakan musik ini berasal dari Indramayu, Jawa Barat. Untuk melahirkan kembali repertoar ini, pemilik nama lengkap Gregorius Djaduk Ferianto sampai berburu dan berguru di Youtube.”Lagu ini sudah ada sejak tahun 1979, mencarinya sulit. Akhirnya dibantu dan belajar dari begawan youtube. Akhirnya ditemukan Piknik ke Cibulan yang dinyanyikan Hj Dariah dari Indramayu. Saya pun langsung jatuh cinta saat pertama kali mendengar,” kenangnya.Bukan Djaduk namanya jika tidak tampil secara interaktif dan terkonsep. Saat membawakan tembang kedua bertajuk Jawa Dwipa, background panggung menampilkan tulisan Jawa. Tulisan yang terpampang ini seakan mengajak penonton untuk berpikir.Sebagai manusia jangan menghilangkan karakater aslinya. Inilah yang menurut Djaduk kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Di mana manusia seakan kehilangan jati diri setelah melebur dalam dunia yang baru.”Istilahnya refleksi orang Jawa di mana wong jowo ilang jawane. Ada orang yang malu mengakui bahwa dirinya adalah orang Jawa. Ini yang saya temukan ketika menggelar konser di Jakarta 13 Agustus kemarin,” pesannya.
Adik kandung Butet Kartaredjasa ini selalu menjelaskan makna setiap repertoar yang dibawakannya. Tentu saja ini menjadi nilai lebih dalam konsernya, sehingga penonton yang hadir tidak hanya menikmati alunan musik tapi juga maknanya.Di sela-sela repertoar Djaduk pasti menyempatkan diri untuk berinteraksi. Terlebih kepada para personil Kua Etnika malam itu. Ada Purwanto yang memainkan bonang, reog dan pamade, Sukoco penabuh kendang, Benny memainkan drum, Indra sang keyboardist, Arie Senjayanto gitaris dan Dhanny Eriawan pembetot bas.Musikalisasi para personil Kua Etnika ini memang patut diacungi jempol. Baik secara kelompok maupun individual, mereka mampu menampilkan perfoma terbaiknya. Salah satunya ketika Djaduk mengajak tandem Sukoco. Djaduk memainkan tabla khas India dan ditimpali oleh Sukoco yang memainkan kendang.Sesuai ciri khasnya, Kua Etnika memang mampu mengemas nuansa etnik dalam musik modern. Seperti saat membawakan repertoar berjudul Pesisir. Alunan musik khas melayu tersaji kuat. Bahkan tangan Djaduk seakan hidup saat memainkan tabla miliknya.”Budaya maritim kita itu sangat kuat dan kental. Ini karena Indonesia memiliki laut yang sangat luas. Tentu saja melalui pesisir kita bisa mengenal budaya luar, karena pesisir adalah pintu gerbang utama,” katanya.Sebagai seorang musisi, Djaduk pun telah melanglang buana. Dari seluruh pengalaman bermusiknya ini paling berharga saat dirinya pentas di gedung MPR tahun lalu. Bersama grupnya yang lain, Sinten Remen, Djaduk hadir menghibur para wakil rakyat.Dalam kesempatan ini Djaduk justru melihat fenomena unik. Di mana dalam setiap kesempatan ada wakil rakyat yang menguap. Bahkan uniknya fenomena menguap ini terus terjadi selama sidang berlangsung.Dari sinilah ide membuat repertoar berjudul Angop hadir. Peristiwa menguap ini, menurutnya, dapat melahirkan sebuah notasi yang unik. Bahkan secara visual sangat menarik karena bergantian silih berganti. Angop ini pun direpresentasikan melalui bebunyian klontongan sapi.”Terinspirasikan membunyikan cangkem wakil rakyat saat menguap. Jika angopnya bagus maka akan melahirkan ide, tapi kalo jelek yo bablas turu,” ejeknya.
Sebagai seorang musisi Djaduk bercerita tugasnya tidak hanya merangkai notasi dan kalimat. Nyawa dan esensi dari sebuah repertoar itu sangatlah penting, di mana mampu menginspirasi bahkan menyuarakan sebuah aspirasi.Bicara dengan bunyi bunyian pun sudah diterapkannya sejak masih muda. Bahkan sebagai manusia, dirinya mengaku lebih nyaman berbicara melalui musik. Salah satu pengalamannya adalah saat berkunjung ke Suku Samin di Blora.Bersama seorang sahabatnya Kamajaya, Djaduk bertemu tetua suku Samin, Samin Suro Sendiko. Menurutnya, Indonesia harus berguru dengan orang Samin. Ini karena pola pikirnya yang sederhana, tapi masuk akal. Persitiwa ini pun diabadikannya dalam tembang berjudul Demen Becik Rukun Seger Waras.Dalam pementasan ini sang kakak Butet Kartaredjasa pun naik panggung. Sebagai seorang kakak dirinya memberikan beberapa wejangan. Namun tetap saja Butet menyindir adik bungsunya ini untuk merayakan ulang tahun ke 50. Suasana geeer kakak adik pun terasa di panggung Concert Hall malam itu.”Heran umur 50 kok ya dirayakan, lha saya pernah 50 tapi tidak dirayakan. Umur kelong kok dirayakan, ati-ati adinda biasanya umur segitu penyakit diabetes menghantui. Sebagai abang yang baik dan benar ingin menyampaikan pesan dan wejangan hiduplah yang baik dan benar. Jadilah pemusik yang cerdas dalam mengartikulasikan pikiranmu,” pesan Butet.Konser ini secara apik ditutup dengan repertoar berjudul Ritma Khatulistiwa. Alunan musik ini bercerita tentang kekayaan irama yang ada di nusantara. Mulai dari perkusi hingga jalinan ruang interaksi melalaui musik. Kekuatan ini oleh Djaduk dianggap sebagai pemerkuat persatuan dan kesatuan Indonesia.”Kemeriahan bagai sebuah pesta irama di tanah Khatulistiwa, di mana ini adalah wujud kita merayakan keragaman, perbedaan dan bebas bersuara untuk menjalin harmoni,” pungkas Djaduk. (*/laz)