JOGJA – Capaian pelaksanaan bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) di Kota Jogja belum mampu memenuhi target cakupan. Dalam tiga tahun terakhir, target cakupan BIAS di Kota Jogja menurun. Salah satu penyebabnya, masih ada persepsi di masyarakat yang mempertanyakan tentang kehalalan vaksin imunisasi.”Masih ada kalangan masyarakat yang mempertanyakan kehalalan vaksin imunisasi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja dr Fita Yulia di sela pelaksanaan BIAS yang diadakan Dinkes Kota Jogja dan Yayasan Ronald McDonald House Charities di SD Pangudi Luhur Jogja, kemarin (18/8). Hal itu dikarenakan tidak terdapat label halal di vaksin. Untuk itu, pihaknya juga menggandeng Kementerian Agama untuk melakukan sosialisasi.
Penyebab lainya, karena juga ada yang fanatik dengan dokter spesial dan kurang percaya dengan petugas di lapangan. Padahal, jelas Fita, petugas yang melaksanakan imunisasi merupakan petugas terlatih. Menurut dia, yang ada di BIAS ini belum tentu ada di dokter spesialis. Selain itu, vaksin serta alat suntik yang digunakan juga steril. “Setiap anak juga mendapatkan satu alat suntik sekali pakai,” ujarnya.Dari data Dinkes Kota Jogja, pada 2013 lalu dari target cakupan 98 persen, capaiannya baru 96 persen. Untuk cakupan BIAS campak baru tercapai 97,45 persen, cakupan BIAS DT untuk siswa kelas 1 baru tercapai 95,3 persen. Sedang untuk cakupan BIAS TD pada kelas 2 baru 96,13 persen dan kelas 3 94,5 persen. “Pada 2015 kita tepargetkan cakupan mencapai 99 persen,” ujarnya.
Pada tahun ini sasaran untuk BIAS di Kota Jogja mencapai 21.914 anak dari 170 SD, dua MI dan lima SDLB. Masing-masing untuk 7.221 anak siswa kelas satu untuk imunisasi campak pada Agustus ini dan imunisasi DT pada November nanti. Sedang siswa kelas dua untuk imunisasi Td pada November nanti mencapai 7.372 siswa kelas dua dan 7.321 siswa kelas tiga.Dokter Fita menjelaskan BIAS sendiri sudah dilaksanakan serentak di Indonesai sejak 1997 silam. BIAS dianggap perlu karena imunisasi yang diperoleh pada waktu bayi belum cukup untuk melindungi dari penyakit campak, difteri dan tetanus hingga usia sekolah.
Semua siswa mendapatkan imunisasi TT lengkap, lima dosis, untuk memberi perlindungan selama 25 tahun terhadap tetanus. “Juga mendapatkan imunisasi DT dan campak untuk perlindungan difteri dan campak selama 10 tahun,” ujarnya.Sementara itu Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan, Pemkot Jogja selalu mendukung upaya untuk menjaga kesehatan anak sekolah. Karena merupakan generasi masa depan yang membutuhkan ketahanan tubuh dengan diimunisasi. “Sehat dan cerdas tidak bisa dipisahkan, karena itu Pemkot Jogja senantiasa mendukung kegiatan menjaga kesehatan anak sekolah,” ujarnya. (pra/laz)