KEMARIN (18/8) menjelang sore, Gerai Oishi, Besari, Siraman, Wonosari dipadati warga. Mereka menjadi peserta sarasehan bertajuk “Membangun Ketahanan Keluarga: Perspektif Islam dan Psikologi”.Sesuai jadwal, akan hadir sebagai narasumber KH Husain Muhammad dan Alissa Wahid (Putri Alm Abdurrahman Wahid). Namun karena berhalangan, putri Gus Dur tersebut tidak bisa memenuhi undangan.Acara sarasehan sendiri sempat molor beberapa jam, karena yang ditunggu-tunggu, KH Husain Muhammad terjebak macet di Bunder, Patuk. Untuk menyingkat waktu, Kabid Kanwil Kemenag DIJ Masdjuri tampil mengawali sarasehan. “Setiap tahun, rata-rata angka perceraian di Gunungkidul ada 1400 kasus. Dari jumlah itu, 70 persen di antaranya gugatan cerai datang dari pihak istri,” kata Masdjuri.Apa yang salah dengan hubungan rumah tangga tersebut, dan bagaimana cara mengatasinya? Masdjuri mengambil contoh dengan bercerita ketidakharmonisan hubungan salah satu keluarga.Digambarkan dalam cerita itu, seorang suami istri terlibat perselisihan, dua hari tidak saling tegur sapa. Namun memasuki hari ke tiga, mereka sudah kembali harmonis.
Kenapa bisa? Ternyata sifat lupa manusia ada untungnya. Berawal dari suami yang ingin berdamai dengan istri namun dicuekin. Satu ketika, suami istri itu berboncengan menggunakan kendaraan. Suami lantas pura-pura lupa jalan, sang istri tanpa disadari menegur. “Lho, pak, ini jalannya keliru, bapak salah jalan”. Rupanya, istri berucap spontan. Perseteruan hebat kemudian mencair gara-gara lupa. Cerita ini sarat dengan pesan moral. Peserta sarasehan pun tampak manggut-manggut. Sebelumnya, penyelenggara dari Rifka Annisa, M Thonthowi mengatakan, peserta sarasehan diikuti oleh tokoh masyarakat, LSM, organisasi kegamaan dan pelajar. Tujuan acara sendiri, memberi pencerahan kepada masyarakat dalam membina ketahanan keluarga.”Berdasarkan kasus yang kami tangani, angka perceraian di Gunungkidul sangat tinggi. Penyebab perceraian diantaranya berawal dari kasus perselingkuhan,” kata Thonthowi.Melalui kegiatan sarasehan, diharapkan ilmu membangun rumah tangga bisa diperoleh bersama. Tidak hanya berlaku bagi yang sudah beristri atau bersuami, namun juga menjadi bekal anak muda ketika hendak membina rumah tangga.”Kami banyak menerima keluhan. Ternyata perselingkuhan marak terjadi dan itu menjadi tugas bersama, dan tiap pribadi untuk melakukan pencegahan,” harapnya.Tak lama berselang, KH Husain Muhammad datang. Ketika diberi waktu menjadi pembicara, lantas membongkar kenapa dan bagaimana mencegah perselingkuhan dan pereraian. Ikuti tulisan berikutnya. (jko/bersambung)