JOGJA – Impian lolosnya dua tim DIJ mewakili Grup 5 di babak 16 besar masih tetap terjaga. Hal ini menyusul hasil imbang yang terjadi pada laga Derby d’ Jogjakarta antara PSIM Jogja vs PSS Sleman di Stadion Mandala Krida kemarin (19/8). Tampil sama-sama ngotot, kedua tim akhirnya mengakhiri laga dengan skor imbang 2-2. Kedua tim seolah mendapat berkah lantaran rival mereka dalam perebutan tiket ke 16 besar PSBI Blitar kalah dalam laga tandang kontra Madiun Putra FC (MPFC) 0-2.
Bagi Super Elang Jawa (Super Elja)-julukan PSS Sleman, dengan hasil ini sudah 99,9 persen lolos. Raihan 19 poin mereka memang masih bisa disamai penghuni perngkat tiga Persinga Ngawi. Tetapi buruknya selisih gol Persinga membuat mereka wajib menang minimal 19-0 lawan PSIM Jogja di laga terakhir jika ingin menggagalkan kelolosan PSS. Sedangkan untuk PSIM, tidak hanya butuh menang melawan Persinga di laga kandang untuk lolos. Selain menang, di laga lain, PSBI harus kalah dari Perseman Manokwari di Stadion Wiliis Madiun. Sementara saat ini PSIM masih berada di posisi empat dengan 15 angka.
Dalam kemarin, suporter PSIM yang harus rela menyaksikkan dari trotoar timur Stadion Mandala Krida sempat ketar-ketir. Bagaimana tidak, secara mengejutkan PSS mampu unggul dengan skor 2-0. Di menit ke-36, PSS unggul 1-0 lewat sontekan Guy Junior. Memasuki babak kedua, PSS sukses menggandakan skor 2-0 lewat Mudah Yulianto pada menit ke- 50. Namun kemasukan dua gol justru menjadi tamparan untuk Topas Pamungkas dkk.Hanya selang satu menit dari gol Mudah, pemain tengah PSIM Jogja Eko Budi Santoso melepaskan tendangan voli yang tak dapat dibendung Herman Batak. Usai gol Kancil-julukan Eko Budi, PSIM langsung mengambil alih kendali permainan.
Hasilnya pada menit ke-59 sebuah kemelut di depan gawang PSS sukses dimanfatkan penyerang Tony Yuliandri membuat gol. Kedudukan 2-2 bertahan hingga wasit Kuspriyanto mengakhiri pertandingan. Usa pertandingan Seto mengaku menyesalkan lemahnya barisan petahanan PSIM mengantisipasi situasi tendangan sudut. Ya, dua gol PSS memang berawal dari sebuah sepak pojok. Namun dia salut dengan anak asuhnya yang tampil pantang menyerah saat cobaan mendatangi mereka secara bertubi-tubi.
“Secara fisik kami kelelahan karena baru menjalani laga di Blitar. Sedangkan secara psikis energi mereka habis mengurusi penuntutan hak. Hingga laga ini, gaji mereka masih ditunggak satu bulan namun mereka profesional sekali,” paparnya. Terpisah, Topas selaku kapten PSIM menyatakan kekagumannya pada suporter PSIM. Sekalipun pertandingan tidak boleh disaksika penonton, pendukung PSIM rela menyaksikan Laskar Mataram berlaga dari luar stadion. “Salut dengan militansi mereka,” tegasnya.
Di pihak PSS, pelatih Herry Kiswanto bersyukur tim asuhannya sudah hampir pasti melaju ke babak 16 besar. Tapi, pria yang akrab disapa Herkis ini mengakui kalau penampilan tim asuhannya jauh dari kata sempurna. Sosok asal Bandung, Jawa Barat (Jabar) tersebut mengatakan, Anang Hadi dkk terlalu banyak membuat kesalahan. Saat menyerang penguasaan bola sering luput. Sedangkan saat bertahan para pemain PSS kerap telat kala hendak merebut bola. Ini menyebabkan tingginya angka pelanggaran yang dilakukan PSS. “Untuk itu sebelum 16 besar ini semua harus kami benahi. Bermain seperti ini di babak 16 besar jelas riskan bagi kami,” jelasnya. (nes/din)