SLEMAN – Peternak sapi pedaging di Sleman kesulitan mendapatkan akses pasar. Itu lantaran para pemasok sapi pedaging lebih memilih membeli ke sapi-sapi impor. Sehingga peternak sapi lokal hanya bisa mengandalkan relasi untuk menjualnya. Jumiyati, salah satu peternak sapi pedaging di Sanggrahan, Karangasem, Ngemplak, mengatakan berkembangnya daging sapi impor membuat peternak lokal kesulitan menjual sapi pedaging. Selain itu, daging sapi yang semakin mahal, diimbangi dengan sulitnya mencari bibit sapi pedaging yang berkualitas tinggi. “Pembeli lebih memilih sapi impor. Mungkin stoknya banyak. Kalau beli ke kita kan waktunya cukup lama,” kata Jumiyati kemarin (18/8).
Menurutnya, pembeli sapi pedaging lebih memilih sapi impor karena stoknya banyak dan tidak perlu menunggu waktu lama sampai sapi bisa diambil dagingnya. Sedangkan untuk mengembangkan ternak sapi pedaging, memerlukan waktu dan perawatan yang tidak gampang. “Ya jualnya ke pembeli yang sudah kenal. Harga yang ditawar pun beda-beda,” imbuhnya. Ia sendiri memiliki sapi jenis Mosin. Jumiyati mendapatkan sapi tersebut dari Pasar Prambanan dua tahun silam. Setiap hari, sapi pedaging diberi makanan pokok berupa rumput jenis kolonjono yang dikembangbiakan di pekarangannya. Selain itu, untuk meningkatkan bobot ternak, diberi tambahan makanan dedak campur ampas, polar dan bunga pisang. Sedangkan sapi jenis mosin yang diternak saat ini memiliki nilai jual mencapai Rp 35 juta.
Senada dikatakan Suwardi. Pemilik sapi ternak ini pun mengaku cukup kesulitan ketika menjual sapi ternaknya. Ia harus menawarkan ke pasar-pasar hewan di Sleman. Sedangkan untuk relasi selama ini juga cenderung membeli sapi impor. “Sekarang susah, nggak kayak dulu. Sapi pedaging harganya tinggi, tapi ya menjualnya juga susah,” kata dia.(fid)