JOGJA – Setelah sempat simpang siur, pertandingan PSIM Jogja v PSS Sleman akhirnya dipastikan “mentas” hari ini. Setelah keinginan Panpel PSIM menggelar laga ditolak oleh pengelola stadion yang ada di seluruh DIJ, pertandingan Laskar Mataram kontra Super Elang Jawa (Super Elja) akan dihelat di markas PSIM Stadion Mandala Krida. Dipilihnya stadion berusia 25 tahun ini tidak lepas dari campur tangan Ketua Umum (Ketum) PSIM yang juga Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS). Tidak terbitnya izin laga dari pihak keamanan bila PSIM menggunakan Maguwoharjo International Stadium (MIS) sebagai kandang langsung menggerakkan panpel untuk melakukan sowan ke HS.
Hasilnya HS langsung bergerak meminta langsung pengelola Stadion Mandala Krida, yakni Balai Pemuda dan Olahraga serta Kapolresta Kota Jogja Slamet Santoso menyetujui pertandingan ini dihelat di Mandala. Kemarin sore (18/8) Panpel PSIM pun bisa bernafas lega karena sudah mengantongi izin pertandingan. Hanya saja, dengan alasan kondisi stadion yang tidak memungkinkan karena direnovasi, pertandingan melawan PSS tidak dapat disaksikan penonton.
Dengan dipastikannya Mandala Krida sebagai venue pertandingan tentu menjadi langkah awal bagi Laskar Mataram menghindari sanksi kalah WO. Satu misi lagi yang harus dilakukan PSIM ialah menghentikan aksi mogok pemain. Karena tidak jelasnya pembayaran gaji dan uang sepatu Topas Pamungkas dkk hendak mangkir dari pertandingan. Pelatih PSIM Seto Nurdiyantara mengakui jika PSIM tidak berada pada kondisi ideal untuk meladeni perlawanan sang saudara muda. Psikologis pemain sudah terlanjur terhajar karena gaji dua bulan yang belum jelas kapan akan dibayar. Selain itu, dalam beberapa hari terakhir para pemain tidak mendapat jatah makan dari manajemen. “Intinya jadi mogok atau tidak semua tergantung apakah besok pagi (pagi ini, Red) tuntutan pemain dipenuhi atau tidak. Ya, kalau jadi main jujur saja ini bukanlah kondisi yang ideal,” jelasnya.
Tetapi, PSIM adalah tim yang berpengalaman menghadapi situasi seperti ini. Pekan lalu, Laskar Mataram sukses meraih dua angka di Blitar. Padahal, lawatan ke Blitar hampir saja batal karena tidak adanya dana. Untuk itulah Seto mengaku PSIM tetap berpotensi menang. Meskipun juga tidak didukung suporter, keuntungan bermain di Mandala Krida tentunya tidak akan disia-siakan PSIM.
“Kalau jadi main pemain jelas harus total. Apalagi bila kalah peluang main di 16 besar otomatis tertutup,” ungkap pria yang musim lalu masih berstatus gelandang PSIM tersebut.
Penyerang PSIM Jogja Tony Yuliandri mengaku sudah tidak sabar berlaga di laga derby. Karena sudah berstatus pemain inti, ini akan menjadi derby pertama bagi pemain binaan PS MAS tersebut. “Saya berharap besok (hari ini, Red) jadi main sebab ini akan menjadi derby pertama saya. Apalagi, di laga lawan PSS saya akan menghadapi bek berbadan besar seperti (Kristian) Aelmund. Tentu itu jadi tantangan tersendiri,” kata pengusung nomor punggung 92 ini.
Sama seperti PSIM, laga sore ini juga sangat penting untuk PSS. Meskipun sedang berada di puncak klasemen dengan raihan 18 angka, posisi PSS belum sepenuhnya aman ke babak 16 besar. Tetapi, pertandingan ini merupakan yang terakhir untuk PSS di babak penyisihan. Kekalahan jelas mempersempit peluang PSS ke 16 besar. Ya, PSIM sebagai saingan mereka masih memiliki tabungan satu laga melawan Persinga Ngawi setelah menghadapi PSS. Satu kandidat wakil grup 5 lainnya PSBI belum menghadapi dua tim berkandang di Madiun Madiun Putra FC (MPFC) dan Perseman Manokwari. “Untuk itulah laga ini harus dimaksimalkan. Kami harus bisa mencuri poin,” ujar Pelatih PSS Sleman Herry Kiswanto. (nes/din)