BAGI sebagian kalangan, mehndi digunakan sebagai hiasan untuk mempercantik kulit. Tidak hanya pada momen indah seperti pesta pernikahan saja tetapi sudah menjadi tren gaya hidup sebagai penambah gaya. “Saat ini memang paling banyak para calon pengantin yang minta dihias tangannya,” ujar salah satu Mehndi Artist Anisatul Ulya ditemui Selasa (19/8) kemarin. Anisa menjelaskan selain calon pengantin perempuan, sebenarnya siapapun sah saja jika ingin menghias kulitnya dengan teknik mehndi. Seperti di tangan dan kaki. Apalagi bahan yang digunakan yakni henna, aman bagi kulit dan tidak menyakiti kulit.
Bahan henna sendiri ada dua macam, yakni natural dan instan. Henna natural terbuat dari bubuk henna yang terbuat dari daun pacar, ditambah campuran air teh hitam, gula pasir dan kayu putih. Sedangkan henna instan dapat dikenakan langsung dengan warna yang lebih cerah. “Dengan henna natural akan lebih tahan lama sekitar 20 hari, sedangkan yang instan memang akan lebih cepat hilang,” ujar Anisa yang menggunakan nama Lady_Mehndi ini. Berbeda dengan tato yang polanya lebih beragam dan dapat berkembang, mehndi memiliki pola tersendiri. Anisa sendiri banyak mengadaptasi pola-pola gambar yang berasal dari India dan Timur Tengah. Seperti pola bunga, garis, lekukan dan titik.
“Mehndi masuk ke Jogja sebagai seni hiasan kulit, sehingga ketika itu dipakai oleh para calon pengantin juga jadi cantik. Karena tidak sedikit dari mereka yang menggunakan busana gaya Jawa namun tangannya tetap minta dihias,” ujar mahasiswa UIN angkatan 2009 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini. Anisa mengatakan meskipun ada pola-pola mehndi yang sudah ada, tetap dapat dikembangkan dan tetap selaras. Dengan begitu tidak hanya para calon pengantin saja yang dapat menghias kulitnya dengan mehndi namun anak-anak muda yang ingin gaya. “Para ibu juga bisa mengaplikasikan mehndi. Cara merawatnya agar tidak cepat hilang juga mudah, yakni dengan mengoleskan minyak zaitun dan jangan mencucinya dengan sabun,” tuturnya. (dya/ila)