BUDAYA ngaret mulai ditunjukkan anggota DPRD Sleman periode 2014-2019. Itu tampak pada rapat internal dengan agenda perkenalan dewan dan staf kesekretariatan DPRD di ruang sidang paripurna kemarin (18/8). Saat acara dimulai pukul 10.00, yang ditandai dengan suara bel , terhitung hanya 20 anggota dewan yang hadir dari total 50 orang. Tiga di antaranya adalah anggota incumbent, yakni Ismi Sutarti (NasDem), Sukaptono (Gerindra), dan Haris Sugiharta (PDIP). Incumbent lain yang diharapkan menjadi contoh bagi dewan baru belum menunjukkan fungsinya sebagai teladan.
Sindiran halus dilontarkan politikus PKB Wawan Prasetia. Saat perkenalan identitas diri, pria berambut kuncir itu mengklaim dirinya masih idealis. Tetapi, sebagai anggota dewan baru, dia disarankan oleh partai untuk mengikuti arus. Nah, budaya ngaret ini menjadi sasaran kritiknya. “Saya biasa berangkat pagi, lha wong anyaran (karena masih baru, Red). Tetapi, lainnya, kok sering terlambat, suwe-suwe iso ketularan iki (lama-lama bisa tertular, Red),” selorohnya disambut gerr hadirin.
Faktanya memang begitu, seperempat jam berlalu, tiga anggota baru memasuki ruang sidang. Mereka adalah Nuril Hanifa (PAN), Remila Mursinta (NasDem), dan Yani Fathu Rahman (PKS). Anggota lain baru bermunculan sekitar setengah jam setelah rapat berlalu. Itupun tak genap. Belasan anggota dewan absen. Padahal, rapat yang diagendakan oleh pimpinan sementara dianggap cukup penting. Apalagi itu adalah rapat pertama yang diagendakan oleh dewan sendiri. “Perkenalan dengan sekretariat dewan jelas penting demi sinergitas. Supaya kerja lancar karena merekalah yang mendampingi dewan selama bertugas,” ujar Ismi Sutarti saat menunggu dimulainya rapat.
Ketua DPRD Sementara Sri Muslimatun mengatakan, setelah dilantik pada 12 Agustus, kerja dewan belum efektif. Pada 13-14 Agustus, pimpinan dewan mengikuti anjangsana halalbihalal ke kyai-kyai se Sleman. Lalu dua hari kemudian berturut-turut 15-16 Agustus mendengarkan pidato kepresidenan. “Karena itu kami sengaja undang setwan dan dewan untuk pertemuan mengawali langkah kami ke depan,” katanya. Sri mengisisiasi kegiatan tersebut bukan tanpa alasan. Politikus PDIP itu berharap dari pertemuan itu timbul kesesuaian maksud dan tujuan antara dewan dan personel setwan yang akan saling bekerja sama selama lima tahun kedepan.
Sri juga berharap kepada anggota dewan agar menjadikan kantor sekretariat menjadi rumah ke dua. Itu tidak sekadar untuk menciptakan suasana nyaman dalam bekerja, tetapi lebih dari itu, agar dewan lebih giat hadir di kantor dewan, khususnya saat ada rapat-rapat penting kedewanan. “Kami menyadari memang susah untuk mempertemukan semua. Makanya kami inisiasi agenda petemuan ini,” ucapnya. Sekretaris DPRD Sutadi Gunarto menyatakan, dalam ketugasannya, staf sekretariat adalah pelayan anggota dewan. Tetapi bukan pelayan dalam arti sebenarnya seperti pembantu rumah tangga. Setwan terikat pada aturan kepegawaian yang diatur dalam PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS. “Dalam bertugas, kami ini partner bagi dewan. Kami menjadi pendamping dan pengawal, sekaligus merekam kegiatan yang dikonsep anggota dewan,” papar Gunarto. (yog/din)