MESKI jarak yang jauh memisahkannya dengan tanah air, tapi engak menyurutkan semangat warga Indonesia merayakan HUT kemerdekaan di Negara Jerman. Kegembiraan masyarakat Indonesia di Jerman terpancar saat acara digelar oleh Komunitas Indonesia Heidelberg yang mengangkat tema MERDEKA. Di kota kecil Heidelberg Jerman, terdapat komunitas anak muda asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di negara itu. Salah satu anggota komunitas berasal dari Jogja, dia adalah Hendri Kurnia Jati.
Hendri yang baru menetap enam bulan di Jerman sangat antusias ikut acara memperingati HUT ke 69 Kemerdekaan Republik Indonesia. Berlangsung pada17 Agustus 2014 di Studentenwohnheim Im Neuenheimer Feld 129 Studentenhochhaus Heildenberg. Suguhan berbagai acara memperingati 17-an itu dihadiri sekitar 50 an orang Detik-detik juga mereka rasakan saat akan melaksanakan upacara pengibaran bendera di lapangan Studentenwohnheim Im Neuenheimer Feld 129 Studentenhochhaus Heildenberg.
Para peserta upacara mengenakan baju batik, rapi. “Ini upacara paling khidmad yang pernah saya ikuti. Jauh dari tanah air, hormat kepada bendera merah putih pada hari kemerdekaan,” ungkap Hendri Kurnia Jati. Usai upacara bendera, kegiatan dilanjutkan diskusi kebangsaan dengan pembicara DR. Willy R. Wirantaprawira, LL. M., P. hD. Yaitu seorang senior saintis di Max Planck Institute for Comparative Public Law and International Law, Heidelberg
DR Willy bekerja di jerman lebih dari 20 tahun. DR. Willy berbicara tentang pentingnya jiwa nasionalis pelajar Indonesia, terutama yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Ceritanya sangat menginspirasi dan membuat pendengar terbawa suasana. DR Willy pesan agar semua tetap menjaga jiwa nasionalisme. Pesan sama juga juga disampaikan Dipl.-Ing.Abu bakar Soedradjat. Yaitu teman BJ. Habibie saat di Aachen. “Akhir-akhir ini rasa nasionalisme pemuda mulai pudar, karena pengaruh masuknya budaya dari luar. Untuk itu, kita sebagai pemuda yang tinggal di luar negri harus tetap mempertahankan kebudayaan lokal Bangsa Indonesia sebagai salah satu warisan dunia. ”
Untuk melepas kerinduan terhadap tanah air, di hari kemerdekaan itu juga diadakan berbagai lomba seperti di kampung-kampung asal mereka. Lomba di pinggir sungai Neckar itu meliputi lari klereng, futsal sarung, makan krupuk, gobaksodor, tarik tambang, memasukkan pensil dalam botol dan estafet bola , lari bertiga dengan kaki terikat. Usai lomba rasa lelah diobati dengan hidangan khas Indonesia yang sudah disiapkan. Berupa tumpeng lengkap dengan bihun goreng, bakmi goreng, tumisan, rendang, soto, rawon, lemper bakwan, dan kue lumpur.
Menutup acara 17an dilengkapi dengan tradisi grilen. Grilen adalah bahasa gaul dari bakar bakaran. Merekapun membakar sate. Dari rangkain itu Hendri merasakan, dimanapun Anda bermukim saat ini, semoga semangat kemerdekaan Indonesia selalu dirasakan. “Jangan pernah semangat Negara Indonesia luput dari hati, bahkan hidup Anda,” pesan Hendri. (rin/man)