FISIKNYAterlihat masih kecil dan malu-malu, layaknya siswi SMP lainnya. Beberapa kali ketika ditanya, Assifa Nur Fadila yang biasa disapa Sifa ini, hanya menjawab dengan singkat sambil beberapa kali menundukkan kepala. Tetapi, jangan ditanya tentang kemampuanya dalam membuat roket air.Terakhir Sifa menjadi pemenang terbaik I dalam Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2014 yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemensristek) 16-17 Agustus lalu di Tangerang. Dengan kemenangannya itu, Sifa berhak untuk mengikuti kompetisi roket air internasional 21th Asia-Pasific Regional Space Agency Forum (APRSAF-21) di Jepang 30 November – 1 Desember 2014, yang diperuntukan bagi siswa usia 12-16 tahun.Sifa yang kelahiran 18 Juli 1999 ini berhak mewakili Indonesia setelah pada KRAN 2014 menjadi yang terbaik. Dalam KRAN, roket air yang diluncurkan Sifa paling mendekati sasaran. Dengan target sasaran berjarak 70 meter dari titik luncur, roket air Sifa mendarat paling dekat hanya 0,93 centimeter dari sasaran. “Saat meluncurkan memperhatikan air, tekanan, angin dan derajat air kurang atau tidak,” ujar Sifa ketika ditanyai kunci suksesnya.
Sifa menuturkan dalam KRAN 2014, sebenarnya dirinya membuat dua roket, yaitu roket model panjang dan pendek. Pada peluncuran pertama, roket panjang melenceng karena dipengaruhi berat. Tapi pada peluncuran roket kedua lebih pendek, dengan panjang 43 centimeter dan bentuk sayap jajaran genjang. “Peluncuran kedua lebih stabil,” ujar siswi kelas 9 SMP 1 Wates ini.Menurut putri pertama dari tiga bersaudara ini, dalam membuat roket membutuhkan ketelitian dan ketepatan. Selain itu, saat meluncurkan roket juga memperhatikan ukuran, berat, tekanan sudut peluncuran serta mengetahui arah angin agar roket bisa tepat sasaran. Dirinya mengisahkan, awal ketertarikanya pada roket air bermula dari sekolahnya. Selain itu kesukaanya pada mapel IPA menambah keingintahuannya mencoba membuat roket air. “Bisa mempraktikkan ilmu IPA dengan meluncurkan roket sesuai sasaran,” ungkapnya.
Mengenai persiapannya sebelum mengikuti kontes roket air internasional APRSAF-21 di Jepang, dalam siswa waktu ini bersama guru pembimbingnya, Sifa akan terus berlatih membuat dan mencoba peluncuran roket air. Terkait cuaca, diperkirakan pada akhir tahun nanti sudah masuk musim dingin. Sifa akan mencari variasi terbaik, di antaranya percobaan peluncuran roket dengan menyesuaikan suhu air.Selain persiapan teknis, warga Temon, Kulonprogo, ini juga akan dibekali dengan kemampuan berbahasa asing. Tidak tanggung-tanggung, orang tuanya sudah berencana untuk membiasakan Sifa untuk berbahasa Jepang sekaligus Inggris. Selain akan diikutkan les bahasa Jepang, di rumah juga dibiasakan berbahasa Inggris. “Sekeluarga sepakat belajar bahasa Inggris, kebetulan ibunya pernah ke Amerika Serikat,” ujar ayah Sifa, Suratno.Sifa memang tinggal menyiapkan diri sebelum ke Jepang, karena statusnya sebagai juara I nasional membuat semua keperluan di Jepang sudah ditanggung oleh Kemenristek. “Sementara untuk juara II hingga VI diberi kesempatan juga untuk ikut, tapi atas biaya sendiri,” ujar Kepala Kantor Pengelolaan Taman Pintar Jogja Yunianto Dwisutono.
Keikutsertaan Sifa hingga ke Jepang memang tidak terlepas dari kontes roket air regional DIJ-Jateng yang diselenggarakan Taman Pintar di Kridosono sabtu lalu (9/8). Sifa saat itu sebetulnya hanya menduduki peringkat 6, tapi tetap berhak mengikuti KRAN 2014 dan malah mendapat juara I.Yunianto menjelaskan, Sifa berhasil mengalahkan sekitar 130 tim yang mewakili 14 science center dari seluruh Indonesia, di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Kejuaraan bidang sains dan teknologi ini bertujuan mendorong perkembangan roket air dan memperkenalkan teknologi kedirgantaraan,” jelasnya. (*/laz)