SEJUMLAH petani cabai di Bandulan, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, terpaksa memetik lebih awal beberapa cabai yang kondisi tak layak jual. Itu harus mereka lakukan lantaran pertumbuhan buah cabai tidak sempurna akibat keterlambatan penyemprotan. “Sebabnya kemarin telat nyemprot. Toko obat kebanyakan tutup, waktu libur lebaran,” kata Maemunah salah seorang petani cabai kemarin (20/8). Maemunah, mengatakan, sebagian hasil panenan cabai kondisinya tak layak jual. Misalnya untuk jenis cabai kriting, pertumbuhannya tidak sempurna. Biasanya berbentuk memanjang, kali ini cabai banyak yang melingkar. Ditambah lagi bentuknya pun kecil.
Maemunah yang memiliki lahan cabai seluas 1.000 meter itu menjelaskan, idealnya untuk penyemprotan tanaman cabai dilakukan setiap seminggu sekali. Nah, usai lebaran, dia tidak melakukan penyemprotan pestisida terhadap tanaman jenis cabai kriting. Alhasil, cabai yang pertumbuhannya tidak sempurna harus dipetik lebih awal.Kondisi cabai itu, sangat mempengaruhi harga jual. Biasanya sekali panen, bisa menghasilkan sekitar 1 kwintal cabai. Itu pun kalau cuaca dan kondisi air mendukung. Sedangkan musim kemarau saat ini, untuk pengairannya dibantu mesin disel agar lahan bisa cukup keperluan airnya. “Ya kalau normalnya, sekali panen bisa 1 kwintal,” tambahnya.
Meskipun kondisi beberapa tanaman cabai tidak sempurna, namun secara keseluruhan tanaman jenis cabai kriting dalam kondisi bagus. Serangan hama pun tidak terlalu banyak. Mayoritas petani sudah paham mengantisipasi adanya serangan hama.Demikian juga dengan harga pupuk tanaman cabai, menurutnya tidak mengalami kenaikan. Untuk pupuk MPK masih dengan harga Rp 10.000 per kilogram. Pupuk KSL merah Rp 7.000 per kilogram 7.000. Sedangkan untuk seluruh tanaman cabai di lahan 1.000 meter, dia membutuhkan pupuk sebanyak 7 kilogram. “Kalau obatnya cukup, idealnya tiga bulan sudah bisa dipanen,” kata dia.Petani di dusun Bandulan, Sukoharjo, Ngaglik, tidak hanya memanfaatkan lahan untuk tanaman cabai. Sebagian dari mereka juga memanfaatkan lahan pasca panen padi dengan tanaman sawi. Perawatannya pun tidak terlalu sulit. Selain itu serangan hama juga tidak seperti tanaman cabai pada umumnya.
Giyo, 26, salah seorang perawat tanaman sawi mengaku tidak terlalu sulit melakukan perawatan tanaman sawi hingga bisa dipanen. Biasanya, untuk tanaman tersebut 20 hari sudah bisa diambil hasilnya. Apalagi didukung dengan pengairan yang cukup sehingga hasil tanamannya pun bagus. “Kalau sawi tidak terlalu detil. Ini jarang terserang hama,” kata dia.Pria asal Magelang, Jawa Tengah itu mengungkapkan, selama merawat tanaman sawi hanya dibutuhkan pengecekan rutin. Setiap pagi dan sore, cukup diberi air secukupnya agar kondisi tanaman tetap terjaga sampai bisa dipanen. (*/din)