SESAJI dari hasil bumi dikemas dengan bentuk gunungan, lalu diusung beramai-ramai menuju sawah. Kemarin, tampaknya menjadi sebuah pagi yang istimewa bagi seluruh warga. Dengan penuh semangat, mereka meletakkan niat yang sama, memuji Tuhan yang telah mengaruniakan berkah panen melimpah.Sesaji atau ubo-rampe yang begitu rigid dipilah dan ditempatkan sangat rapi. Semua itu menjadi simbol rasa syukur. Warga berdatangan seperti laron, muncul dari berbagai penjuru, untuk menyaksikan dari dekat ritual tahunan itu.Seperti tahun-tahun sebelumnya, kirab Baritan Agung bergerak dari rumah salah satu tokoh masyarakat setempat, menempuh jarak sekitar 400 meter menuju persawahan. Tahap demi tahap, ritual digelar secara runtut, dimulai dengan doa hingga prosesi menuangkan air kendi ke saluran pengairan. “Air dalam kendi itu diambil dari dua mata air di desa kami. Ini sebagai wujud rasa syukur kami kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah,” ucap Suhartoyo, salah satu tokoh masyarakat sekaligus panitia Baritan Agung.
Prosesi Baritan Agung kemudian dikunci dengan pementasan sejumlah kesenian tradisional khas Kulonprogo. Panitia sengaja menyiapkan panggung khusus di tepi persawahan. Suhartoyo menjelaskan, Baritan Agung merupakan tradisi leluhur yang sudah turun-temurun.Warga Kalisoka biasa menggelar tradisi ini pascapanen raya dengan hari khusus yang dipilih sesuai penanggalan Jawa. Dalam prosesi kali ini merupakan pelaksanaan kali ketiga. Biasanya tradisi ini diselingi dengan tradisi Baritan Kupatan, yang biasanya menandai labuh tanam padi bagi petani. “Intinya adalah memohon kepada Tuhan agar proses bertani lancar, tidak diserang hama, dan hasil panen melimpah berlipat ganda,” jelasnya.
Selain sebagai bentuk rasa syukur, tradisi ini dinilai penting untuk upaya pelestarian budaya. Khususnya mengenalkan kepada generasi berikutnya agar tradisi warisan nenek moyang itu tidak luntur diterjang zaman. “Harus tetap dilestarikan agar budaya kita tetap lestari dan tidak terjajah oleh budaya asing yang terus menggempur dari luar,” ungkapnya.Tokoh masyarakat lainnya, Sutarno mengungkapkan, puncak Baritan Agung dihelat setelah warga melakukan ziarah ke empat makam leluhur desa setempat. Di antaranya ke Makam Prawiro Manggolo yang konon merupakan seoerang tokoh laskar Pangeran Diponegoro. Kemudian, ke makam Ki Ciblek Nyi Ciblek, makam Ki Soka Nyi Soka yang merupakan cikal bakal Kalisoka, serta makam Ki Surowijoyo Nyi Surowijoyo. “Setelah itu prosesi pengambilan air sendang lanang dan sendang wadon di sebelah barat dan timur pesanggrahan Ki Surowijoyo sebagai salah satu uborampe Baritan Agung,” ungkapnya.Merti juga dimeriahkan dengan kesenian gejok lesung, sholawatan Islam dan sholawatan Katolik. Selain itu juga digelar ketoprak dengan lakon Adege Padukuhan Kalisoka untuk napak tilas perjuangan Ki Surowijoyo dan prajuritnya. (*/jko)