SLEMAN – Para pengguna jalan yang melewati Perempatan Tajem, sampai Babadan, Wedomartani, Ngemplak diimbau untuk berhati-hati. Khususnya saat malam hari. Selain lalu lintas yang padat, Karen keberadaan perguruan tinggi, lampu penerangan di kawasan ini sangat minim.Riyanto, 42, warga Selomartani, Kalasan, Sleman mengatakan, dia cukup khawatir ketika melintas di jalan tersebut saat pulang kerja malam hari. Sebab, lampu penerangan jalan belum maksimal. Padahal jalur tersebut cukup mudah untuk mengakses ke beberapa Kecamatan di Sleman. “Saya kerja di Condongcatur. Kalau pulang memang lebi dekat jika lewat Tajem. Tetapi, penerangan jalan belum ada,” kata Riyanto kemarin (20/8).Buruh serabutan itu mengaku, ketika malam hari banyak kendaraan yang melintas, baik roda dua maupun roda empat. Bahka, tidak sedikit truk-truk pengangkut pasir juga melintas di ruas jalan tersebut. Jika kondisi hujan, volume jalan sempit dan minimnya penerangan jalan, cukup berbahaya. “Apalagi kan sepanjang pinggir jalan banyak pohon-pohon rimbun,” imbuhnya.
Ya, jalan raya Tajem merupakan akses termudah ke arah Kecamatan Prambanan, Kecamatan Kalasan, dan Kecamatan Cangkringan. Lebar jalan hanya kurang lebih tiga meter itu cukup padat kendaraan. Sementara di sepanjang jalan juga banyak pepohonan rimbun. Kondisi ini cukup berbahaya bagi pengguna jalan yang melintas.Dedeh, 33, salah satu warga Panjen, Wedomartani, Ngemplak mengungkapkan, lampu penerangan jalan di jalan raya Tajem memang belum sesuai kebutuhan. Ia menerangkan, di titik tersebut kerap terjadi kecelakaan. Terang saja, kondisi jalan lurus dan sepi, pengguna jalan kerap memicu kendaraannya dengan kencang. “Jalannya lurus. Di sini sering terjadi kecelakaan,” ujarnya.Perempuan yang berjualan angkringan sejak tahun 1999 itu berharap sepanjang jalan raya Tajem bisa dipasang lampu penerangan jalan. Meski tingkat kerawanan minim, namun paling tidak bisa memudahkan akses ke beberapa wilayah dengan lancar. “Rawan kriminal sih tidak. Sering ada kecelakaan,” kata dia. (fid/din)