BANTUL – Program Pendampingan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIJ kepada kelompok tani (klomtan) Tani Harjo, Dusun Tegalsempu, Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak, berhasil. Itu tercermin dari hasil panen para petani. Lahan seluas satu hektare rata-rata mampu menghasilkan 2,4 ton kedelai.Kepala BPTP DIJ Sudarmaji mengatakan, program SL-PTT salah satunya bertujuan untuk memperkenalkan berbagai varietas kedelai kepada para petani. Agar hasil produktifitas kedelai para petani meningkat.”Rata-rata di Jogja 1,3 ton. Dari berbagai varietas yang kita coba, bisa 2,4 ton per hektare,” terang Sudarmaji, usai menghadiri Temu Lapang dan Panen Kedelai di Dusun Tegalsempu, Caturharjo, Pandak, kemarin (20/8).
Dalam program ini, para petani diperkenalkan berbagai varietas kedelai. Seperti Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Gema, Burangrang, dan Kaba. Selain itu juga sekaligus memberikan pendampingan kepada mereka. “Ini upaya untuk memperbanyak benih kedelai di Jogja,” ujarnya. Hal itu karena hasil panen produksi benih kedelai ini akan dihibahkan kepada para petani. Senada diungkapkan Penanggungjawab SL-PTT Kedelai Sri Wahyuni. Dia menerangkan, program SL-PTT mempunyai beberapa agenda. Di antaranya percontohan inovasi, dan pendampingan produksi benih kedelai UPBS (unit pengelola benih sumber) BPTP DIJ.Untuk percontohan inovasi, kata Yuni sapaan akrabnya, SL-PTT memberikan program berupa pendampingan dan pelatihan penanaman enam varietas kedelai di atas lahan seluas satu hektare. Kemudian untuk produksi benih, SL-PTT memberikan pendampingan produksi benih kedelai di atas lahan seluas lima hektare. Yuni mengakui sebagian varietas kedelai yang diperkenalkan bukan barang baru. Tetapi ada sebagian petani yang belum mengetahuinya. Bahkan mungkin pola penanaman atau teknologi yang mereka terapkan masih kurang tepat.”Faktor keberhasilan produksi kedelai ada beberapa hal. Harapannya dengan program SL-PTT para petani mengetahui seluruh faktor tersebut,” tambahnya. (zam/laz)