JOGJA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ secara resmi meluncurkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Bertempat di Program Diploma Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi (UGM) Rabu (20/8). Kepala KPBI DIJ Arief Budi Santoso mengatakan penerapan lingkungan masyarakat penggunaan nontunai diterapkan pertama kali di UGM. UGM dipilih sebagai lokasi pilot project penerapan less cash society. “Pertimbangannya populasi mahasiswa cukup besar yakni 50 ribu lebih dengan transaksi ritel di sekitar kampus cukup tinggi,” jelas Arief disela-sela kegiatan kemarin.Arief mengatakan mahasiswa merupakan salah satu golongan masyarakat dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Selain itu kalangan muda identik dan gemar mencoba hal yang baru. Rangkaian kegiatan GNNT, jelas Arief, diawali dengan survei pemahaman dan penggunaan uang elektronik yang diluncurkan BRI, BCA, Mandiri dan BNI. Langkah tersebut sebagai upaya penyebaran informasi dan peningkatan penggunaan alat pembayaran nontunai di perguruan tinggi.
Hanya saja, BI sendiri berharap penggunaan nontunai ini dapat terus dikembangkan tidak terbatas hanya pada perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lain tetapi juga pada lokasi lain. “Kami berharap tercipta sebuah closed loop eco systemdi wilayah DIJ dengan mengedepankan sistem pembayaran yang terintegrasi pada berbagai sektor sehingga perputaran uang efisien, cepat dan aman,” jelasnya.Arief memaparkan perkembangan transaksi nontunai di Indonesia masih terbilang kecil. Bahkan di tahun 2013 terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. “Ditahun 2012 sempat ada peningkatan 140 persen dan menurun ditahun berikutnya yang hanya 37,05 persen,” jelasnya.Menurut Arief GNNT merupakan sebuah kampanye yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnisdan juga lembaga-lembaga pemerintah. Agar mereka menggunakan sarana pembayaran nontunai dalam melakukan transaksi keuangan.
Selain di DIJ, GNNT juga diselenggarakan secara serentak di sepuluh kota di seluruh Indonesia yakni Makassar, Banjarmasin, Denpasar, Surabaya, Bandung, Palembang, Padang, Medan, dan Bogor.Sementara itu, Area Sales Manager PT Danamas Insan Kreasi Andalan (DIKA) menjelaskan perusahaannya menyuplai produk nontunai dari BCA bernama Flazz. Setiap bulannya penjualan kartu Flazz sendiri mencapai lima ribu buah dengan harga kartu Rp 25 ribu. “Kartu kami bersifat unregister dengan maksimal pengisian Rp 1 juta. Produk kami sudah dapat dipakai di sejumlah toko retail dan halte Trans Jogja,” terangnya.Sedangkan untuk Bank Mandiri mengeluarkan produk bernama E-Money. Divisi E-Channel dari Bank Mandiri Asminah mengatakan transaksi e-money secara nasional mencapai 4 juta transaksi. “Sedagkan jumlah kartu yang beredar untuk DIJ sebanyak 140 produk,” terangnya. (bhn/ila)