ACARA Festival Lima Gunung (FLG) sudah siap digelar lagi. Ajang pertemuan para seniman Magelang akan digelar pada besok (23/8) dan lusa (24/8) di lereng Gunung Merbabu. Tepatnya, di Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.Memasuki acara FLG ke-13, semua panitia sudah selesai dengan berbagai persiapan. Selain menyiapkan kelompok kesenian, panitia juga menyiapkan beberapa gerai pameran lukisan, topeng, dan foto, suvenir, serta kuliner untuk masyarakat yang akan menyaksikan FLG XIII tersebut.Panitia lokal bersama warga sudah menyiapkan panggung pementasan di salah satu pekarangan di Dusun Warangan, Kecamatan Pakis. Tidak lupa, mereka menghias desa tersebut dengan aneka seni instalasi. Terutama menggunakan bahan-bahan alami.Ketua Seksi Publikasi dan Dokumentasi Panitia Festival Lima Gunung XIII Arie Kusuma mengatakan, acara yang digelar seniman dan para petani tersebut, mengangkat tema “Topo ing Rame”. “Tahun ini, temanya adalah Topo Ing Rame. Artinya, bertapa di tengah keramaian,” ungkap Arie, kemarin (21/8).
Menurut Arie, penyelenggara festival tahunan masih sama dengan festival serupa tahun lalu. Yaitu, para seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung (KLG). Yaitu, dari Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. “Persiapan kami telah dimulai sejak Januari lalu,” imbuh Arie.Ditegaskan Arie, nantinya para penyaji pementasan tidak hanya kelompok-kelompok seniman petani dalam Komunitas Lima Gunung (KLG). “Tetapi juga grup-grup seniman maupun perorangan yang selama ini menjalin relasi dengan Komunitas Lima Gunung,” jelasnya.Mreka yang ikut dalam acara itu berasal dari Magelang maupun beberapa kota lainnya. Diantaranya dari Jogjakarta, Solo, Kendal, Surabaya, Kediri, dan Cirebon. Para peserta menyatakan siap bergabung dan meramiakan festival tersebut.Arie menjelaskan, FLG tahun ini setidaknya mementaskan 31 kesenian. Baik kesenian tradisional maupun kontemporer. Kesenian tersebut, akan pentas selama dua hari. Yaitu, mulai siang hingga malam hari.Festival Lima Gunung digelar secara mandiri tanpa sponsor dan donatur. “Beberapa pementasan dalam festival nanti, antara lain tarian dan musik Harajukunan Trethek Trunthung, tari Kidung Sabin, Topeng Klana Bandopati, Soreng Putri, Grasak Glondong, Rimba Stamasa, Margoloyo,” katanya.
Selain itu, panitia telah memastikan akan tampil tari Tanjung Sari dan tarian lainya. Seperti, performa “The Legend of Amurta”, Hegong, pentas akrobatik api, tari Soreng Bocah, Klothekan Bocah, Topeng Saujana, Lengger, Seto Kencono, Gladiator Gunung, pentas musik kontemporer, Suling Belawang, performa Metamorfosis, performa Bicara pada Puing, drama tari Gatotkaca Winisuda, Leak dan pembacaan puisi, serta pergelaran Wayang Gunung. Pada acara nanti, juga diluncurkan buku kumpulan tulisan soal Komunitas Lima Gunung yang berjudul “Sanak Kadang”.”Para seniman juga akan melakukan kirab dengan berjalan kaki melewati jalan-jalan dusun. Selanjutnya tokoh Komunitas Lima Gunung akan melakukan pemukulan gong di arena pementasan dan orasi budaya,” katanya.Puncak festival, antara lain ditandai dengan kirab seniman melewati jalan-jalan Dusun Warangan, peluncuran buku “Sanak Kadang” yang isinya tentang kegiatan Komunitas Lima Gunung selama beberapa tahun terakhir, dan pidato kebudayaan.Ketua Panitia Festival Lima Gunung 2014 Titik Sufiani mengatakan, pimpinan berbagai grup kesenian, terutama dari luar Magelang, menyanggupi hadir pada festival tersebut. Demikian juga dengan warga setempat, kata Titik, juga menyediakan rumah-rumahnya untuk tamu yang akan menginap secara gratis selama berlangsung festival.Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto menyebut, Festival Lima Gunung menjadi kekuatan karakter komunitas tersebut. Karena penyelengaraannya terus menerus mempertahankan kemandirian. “Tetap kukuh tidak meminta sponsor dan donatur, dan tidak bicara uang,” tegasnya.(*/hes)