WONOSARI – Koperasi tahu dan tempe (Kopti) Gunungkidul merilis atau melaunching rumah tempe. Rumah tempe yang berlokasi di Siyono Wetan, Logandeng, Playen, Gunungkidul, diklaim memiliki keunggulan memproduksi tempe lebih cepat, lebih bersih, dan ramah lingkungan.Ketua Koperasi Tahu Tempe (Kopti) Gunungkidul Tri Harjono mengatakan, rumah tempe memiliki banyak keunggulan. “Kecepatan produksi, lebih cepat dibanding pengolahan tradisional. Kemudian limbah yang dihasilkan sangat ramah lingkungan, karena digarap dengan tekhnologi bio gas,” jelas Tri Harjono dalam jumpa pers usai peresmian rumah tempe, kemarin (21/8).
Menurut Tri Harjono, hadirnya rumah tempe di Gunungkidul tidak untuk mematikan usaha-usaha pembuatan tempe yang sudah ada, namun lebih dari itu adalah untuk menhidupkan produksi dunia pertempean. “Proses produksi tetap akan memanfaatkan kedelai lokal. Kami sudah menjalin kerja sama dengan bulog dan kelompok tani. Selama di Gunungkidul ketersediaan kedelai ada, kami akan menyerap dari petani lokal,” terangnya.Ditanya apa kehadiran rumah tempe berpotensi merugikan produsen tempe yang masih menggunakan cara-cara tradisional, Tri hanya tersenyum. Menurut dia, kaitannya dengan segmen pasar, dia menjamin kehadiran rumah tempe tidak akan menjadi momok perajin tempe di Gunungkidul. “Malahan, kita nanti siap memfasilitasi melalui pelatiha-pelatihan agar tempe yang dipasarkan lebih higienis,” janjinya.
Artinya, ke depan pengolahan tempe dapat dilakukan secara baik, sehingga tidak tercampur dengan bahan-bahan yang lain. Tempe tidak lagi berukuran besar, namun lebih ramping dan memiliki citarasa tinggi.”Tidak akan merugikan perajin tempe tradisional, karena segmen pasar kami menengah ke atas,” ujarnya.Selain dari faktor higienis dan ramah lingkungan, produksi keluaran rumah tempe kemasannya juga berbeda. Menggunakan plastik tertentu, dan bisa bertahan hingga satu minggu. Sementara itu, Program Managemen Mercy Corps Indonesia (MCI) Muhammad Ridha selaku pendamping program mengatakan, tempe menjadi pangan seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, proses produksinya harus mulai memprioritaskan aspek higienitas, kenyamanan pekerja, serta dampak terhadap lingkungan. “Harapan kami, dengan adanya tekhnologi ini, produsen tidak hanya bisa mengurangi dampak terhadap lingkungam, namun juga siap bersaing dengan kualitas produk yang bisa diandalkan,” katanya. (jko)