Ragam busana pria memang tidak sebanyak wanita. Di beberapa ajang fashion show dan juga fashion week, hanya ada sebagian kecil sesi yang menampilkan koleksi untuk pria. Brand-brand ternama juga dominan menggarap pasar segmen wanita.Desainer Philip Iswardono mengatakan, untuk busana pria pasar di Jogja memang terbatas. Salah satunya karena memang belum banyak yang berani tampil dan mengeksplorasi gayanya sendiri. “Misalnya tenun ataupun sarung, kain tradisional ini masih jarang yang mau mengenakannya di berbagai kesempatan,”ujarnya.Padahal, menurutnya kain tradisional ini bagus sekali jika dikreasikan sebagai busana pria. Karena pola dan garisnya yang tegas. Selain belum banyak pria yang berani bereksplorasi, para perancang dan brand-brand fesyen yang ada juga belum banyak bereksplorasi. “Yang ada di pasaran, busana pria hanya itu-itu saja. Padahal jika digarap, pria juga bisa tampil bergaya urban dan edgy di berbagai kesempatan,”ujarnya.
Desainer yang mencoba konsern menggarap busana pria memang masih bisa dihitung dengan jari. Di antaranya dr Ian MS dan juga desainer muda Kartika Liem. Koleksi terbarunya memberikan ragam pilihan bagi para pria urban yang ingin bergaya, baik untuk gaya casual maupun semi formal. Salah satu gaya yang diangkat yakni padupadan celana pendek dengan atasan kemeja.Dr Ian misalnya, yang mengangkat warna-warni lurik. Pola lurik yang tegas dipadukan dengan celana pendek. Bagi pria yang ingin tampil beda, paduan gaya kemeja lurik dengan celana pendeh bisa menjadi inspirasi. “Kalau lurik sudah mulai banyak diangkat sebagai material busana wanita, kali ini saya angkat untuk busana pria. Kemeja dan bahkan jaket jadi terlihat tegas, maskulin dan edgy,”ujarnya.Sedangkan Kartika Liem bermain dengan pola kotak untuk kemeja yang dipadukan dengan celana pendek. Gaya casual memberikan kesan maskulin dan edgy.(dya/din)