JOGJA – Meskipun bakal menjalani laga tidak rawan bentrok suporter saat menghadapi Persinga Ngawi Sabtu (23/8) mendatang, panpel PSIM Jogja tetap kesulitan mencari tempat dihelatnya pertandingan kandang. Keinginan untuk menggunakan Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul menjamu Laskar Alas Ketonggo-julukan Persinga Ngawi- dipastikan mental. Penyebabnya tidak lain adalah lampu merah dari pihak keamanan. Kapolres Bantul AKBP Surawan mengatakan, meskipun lawan yang dihadapi PSIM bukan PSS Sleman, tetap saja pertandingan menghadapi Persinga bisa menimbulkan keributan. Bukan keributan suporter PSIM v suporter Ngawi. Melainkan bentrokan antara suporter PSIM dengan suporter Persiba Bantul. “Tetap saja SSA ini kan wilayah Bantul otomatis banyak juga suporter Persiba. Yang saya tahu, suporter kedua tim juga berseberangan. Karena itulah kami tidak berani untuk memberikan izin pertandingan tersebut,” tegasnya kemarin (21/8)
Surawan juga menyesalkan mepetnya pengajuan izin yang dilayangkan panpel PSIM. Bermain Sabtu, panpel baru mengiriman surat izin kemarin. Menurut Surawan hal ini tentu membuat persiapan pihak keamanan Bantul mengamankan laga PSIM v Persinga terlalu mepet. “Mainnya Sabtu masak mengajukan izinnya baru hari ini (kemarin, Red). Jelas kami tidak dapat menerimanya,” ujarnya.Sekretaris Panpel PSIM Ari Darmawan mengatakan, peluang untuk menggunakan SSA sudah 100 persen tertutup. Ya, kata Ari Polres bantul tetap keukeuh pada pendirian awal tidak akan memberikan izin PSIM bermain.Menurut Ari, SSA memang tempat yang paling representatif untuk PSIM saat ini. Sebab, di stadion tersebut panpel Laskar Mataram dapatmemaksimalkan pemasukan dari tiket pertandingan kandang. Terlebih lagi, Kabupaten Bantul sejatinya merupakan salah satu basis pendukung PSIM terbesar. Meskipun kabupaten ini juga memiliki klub kebanggaan sendiri Persiba Bantul.”Kalau Polres sudah tidak ma uterus mau bagaimana lagi. Kami sudah berjuang semaksimal mungkin agar PSIM dapat menggunakan SSA,” jelasnya.
Ari menambahkan, tidak ada jalan lain bagi panpel selain menggelar di Stadion Mandala Krida. Celakanya, karena kondisi Mandala Krida tak memungkinkan Polresta Kota Jogja tetap tidak memperbolehkan panpel menggelar pertandingan dengan penonton.Menurut Ari, sebenarnya panpel juga telah mencoba memainkan laga di Magelang atau Boyolali. Sayangnya, baik Stadion Madya Sanden, Magelang maupun Stadion Sunan Pandanaran, Boyolali sama-sama tidak bisa dipakai. “Mandala Krida adalah jalan terakhir. Namun ya itu tadi kami tidak bisa menggelar pertandingan dengan penonton. Mandala Krida dianggap tidak layak menampung suporter,” sergahnya.Tapi usaha panpel PSIM menggelar pertandingan di Stadion Mandala Krida juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengelola Mandala Krida, Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) DIJ juga seperti tidak ikhlas memberi lampu hijau PSIM bermain di sana.
Kepala BPO Eddy Wahyudi mengatakan, meskipun laga tidak disaksikan penonton, tetap saja suporter PSIM bakal nekat menyaksikan laga dari Jl. Gondosuli, sebelah timur Mandala. Parahnya lagi, pada laga menghadapi PSS, banyak suporter yang mbludus ke areal kompleks Mandala Krida.”Pas menghadapi PSS ada beberapa seng yang dijebol juga. Selain itu saat PSIM bermain otomatis pengerjaan Mandala Krida terhambat. Padahal kontraktr ditarget harus menyelesaikan pembangunan tribun timur akhir tahun ini,” imbuhnya.Eddy pun yakin karena laga Sabtu menjadi yang terkahir bagi PSIM di babak penyisihan suporter bakal berbondong-bondong datang ke stadion. Tapi Eddy mengaku tidak bisa memutuskan sendiri. Jika pihak kepolisian serta Disdikpora DIJ mengizinkan, laga PSIM v Persinga bisa mentas di Stadion Mandala Krida. (nes/din)