SLEMAN – Jogjakarta memiliki daya tarik tersendiri untuk pengembangan dunia usaha. Baik untuk sektor transportasi, pariwisata, maupun bidang lainnya. Khusus untuk transportasi udara, Jogja mampu memikat banyak maskapai untuk membuka rute-rute baru.Manajer Finance Angkasa Pura I Herdiyanto mengatakan, Jogja memiliki daya tarik tersendiri bagi maskapai penerbangan. Hal itu terlihat dari pertumbuhan penumpang yang pesat. Rata-rata lima tahun kenaikannya mencapai 12 persen. Peningkatan pesat ini menuntut untuk menaikkan pelayanan kepada penumpang. Dalam menaikkan pelayanan, pada pertengahan September nanti akan dibuka rute Jogja – Lampung pulang pergi (PP). Sedangkan pada awal Oktober 2014 akan dibuka rute Jogja –Kualanamu Medan. Perkembangan yang dinamis ini menuntut perbaikan pelayanan. Salah satu yang dilakukan adalah dengan membangun gedung Terminal B untuk penerbangan internasional dan sebagian domestik seluas enam ribu meter persegi.”Pembangunan gedung baru tersebut, untuk menjaga kenyamanan penumpang agar tidak terlalu berdesak-desakan,” tuturnya di sela penerbangan perdana NAM Air rute Jogja – Palembang, Rabu (20/8) lalu. Sesuai rencana, Oktober nanti Terminal B sudah bisa beroperasi.
Di tempat yang sama Manajer Bagian Komersial Angkasa Pura I Fernandez Darius menambahkan, saat ini kapasitas Bandara Adisutjipto satu juta per tahun sesuai standar 14 meter persegi per orang untuk domestik. Sedangkan untuk internasional, 16 meter persegi per orang. Sementara saat ini, sehari terdapat 68 pesawat yang datang ke bandara. “Jika dihitung pulang pergi ya dikalikan dua. Saat ini pertumbuhan pesawat berada di angka 12 persen, sedangkan untuk penumpang di angka sembilan persen,” katanya.Diakui Fernandez untuk pengembangan kesulitan sarana dan prasarana, yakni kesulitan landasan pesawat, juga daya tampungnya baik untuk pesawat komersial maupun pesawat latih. “Trafik di udara terlalu sibuk, ditambah lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Hal ini memang perlu dipikirkan kedepannya untuk menunjang kenyamanan penumpang,” terangnya.Sementara itu, dari sisi pariwisata dengan sibuknya arus transportasi udara membawa angin segar tersendiri. Sebab ada banyak mahasiswa yang menetap di Jogja, setidaknya jumlahnya mencapai 270 ribu dan hanya sekitar 20 persennya saja yang merupakan mahasiswa asli Jogja. Menurut Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata DIJ Hero Darmawanto, kehadiran mahasiswa dan keluarganya tentu bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Terlebih saat ini tengah dikembangkan wisata nostalgia yang menyasar orang-orang yang dulu pernah bersekolah di Jogjakarta. “Nah, dengan adanya banyak rute baru yang dibuka tentunya bisa menunjang jumlah kunjungan wisata. Saat ini kita sedang menyiapkan wisata nostalgia, juga promosi dengan menggandeng berbagai pihak, baik melalui table top ataupun pameran,” ungkapnya. (ila/jko)